Top yudhistira panji News
Noozly, Social News since 2009
Login Set up email alerts for "yudhistira panji"
Top Searches
Movies
Sports
Video Games
Bands
Search

Top yudhistira panji News


yudhistirapanji.com could be available! Click to Check









Historical
Posted: Dec 31, 1969 (05:00:00 PM)
baca nih ada cerita seru.,. bacanya yg J1 ajah., :D (y) Rendy Hersa, Aditya Adha Yudhistira, Panji Syahputra, Rheza Aji Kumoro, Khoko Jannatul P, Hendy Wijaya, Aris Munandar II, Aris Munandar, Hatake Indrashi kumpulan cerita hantu UG --> http://www.kaskus.co.id/thread/5104cc72562acfc15b000002/kumpulan-cerita-hantu-universitas-gunadarma/

Posted: Dec 31, 1969 (05:00:00 PM)
Putri Rahayu Pagilaran Peri Pahrizal Arifiani Palupi Mötik Pacar'na Celvin Ade Pmd Bali Irfan Ank Pmr -Rniiee PNyaa OgAa- Koto Pdg Panjang Yayan D'Panzer Jofani Peggy Pangkerego Desak Panda Gendut Pani Cie Shikamaru Pande Aniick Panda Ia Pangayu Nyoman Pande Surya Pangeran'Halabiu Froom BalanganCity Putri Pangesti Denian Surya Pananda Rizky Iras Panggabean Tari Pansella Panji Mahaputra Tiiaraa Pantang Menyerah Lia Ulquiorra Shinta Adec Lian Iaa Lee Lia Kitty'y Aadit Rista Lia Lia Ciieel Miieel Sai Liar Lia Deredevil She Bella Leonita Adinda Putri Kathy Leonardo Leonardo Wazeng Makapele Leonardus Yudhistira Clara Leonita Leon Criss Angel Ayu Leonita DeViill She Link Lunk Lintang Prakasa Linda Si Viruspurple May Linda Off Line Linda Sari Wulandari Linda Ayudia Listyana Viie Indriyani Linda Bunga Septriasa Andy D Icewalk InNdraa Swantheywhy Part II Ina Queen Lingga Pratama IiNt Zie PoPaye Jamal SwatCream Jaka Ajuss Kadek Mawar Fiqi Javad R Indrajaya Janitra Iga Devita Kartika Sari Jarcky Cole Bayu Jaya Arik Januarta Kak Nenty Zilisa Nur Qadimah Zie TonGz Defid Zie Tualen Alfrilya Zierewqar Ziyad Bawazier Khalida Zia Hapsari Zahraa Zenit Arimbhawa Deck Ekha Lagh'ettha ZenextyZirrly Dwiixz Zeetz Sweetz Bumper Zee's Tari Ellriyan Apristian Zendrato Juwitha Jeitha'zerofive Chibi Marukochan Hamka Andre Setiawan Halim Cindy 'oktara' Hamdani Winda Harmoni Atsutane Hayuata Harieska Mega Pratiwi Willy Haheho Reno Hartono Happy Ramadhani Hanunnuha Lu'lu'il Hindundina Hapis Ardiawan Uyyunk Gaskins Fara Hana
YUK SEMARAKAN ULTAH DINOMARKET yg ke 5 ini, ikutin kuisnya dan menangkan banyak hadiahnya, add Dinomarket Crew dan Like DinoMarket.com MISSION #1 : SPREAD THE CELEBRATION


- Add DinoMarket Crew sebagai teman kamu dan klik tombol LIKE di fanpage DinoMarket.com
- Pakai Profile Picture "TAG AND WIN - 5th CELEBRATE ANNIVERSARY" selama m

Posted: Dec 31, 1969 (05:00:00 PM)
Mana Panji Perjuanganmu Kala Itu ???
Mana Bukti "Kata Sakti" Yang Kau Agungkan ???
Aku Rela "Memujamu" Andai Kau Tak Takut Mati...

Posted: Dec 31, 1969 (05:00:00 PM)
Bagi anggota arisan alumni Smanwa '93.. Hadir ya di mohonkan tepat waktu di kediaman Rekan kita PONISIH
Minggu 15 Des 2013 pkl 13.00 wib.. Krn acara di akhir tahun ini akan ada doorprice 1 unit sepeda motor YAMAHA " MIO J "..

Posted: Dec 31, 1969 (05:00:00 PM)
Homeyyyy~

Posted: Dec 31, 1969 (05:00:00 PM)
Iyaz Lastri shared Universitas Mercu Buana Jakarta's photo. Beasiswa tahun akademik 2012/2013 untuk kelas reguler


Posted: Dec 31, 1969 (05:00:00 PM)
Wedar Suntoro shared Universitas Mercu Buana Jakarta's status update. BROADCAST FAIR 2013: FILM KARYA DOSEN & MAHASISWA UMB MASUK DALAM SPECIAL SCREENING FESTIVAL FILM INTERNASIONAL

Dalam rangkaian acara Festival Film Internasional dan Broadcast Fair 2013, akan diselenggarakan Premiere Film Special Screening di Cinema XXI Planet Hollywood, 27 November 2013. Empat judul film yang akan diputar adalah Freshest, Cinta Cita, Sepeda Untuk Shania dan Black Box. Empat film tersebut adalah karya mahasiswa dan dosen Broadcasting UMB yang telah memenangkan kompetisi di tingkat nasional maupun internasional pada tahun akademik 2012/2013 lalu. Tentu menjadi kebanggaan tersendiri bagi UMB, karya civitas akademikanya diakui oleh dunia internasional dan bersanding dengan premiere film film internasional lainnya. Tentu hal ini tidak terlepas dari dukungan Bapak Damien Dematra, Founder dan Director International Film Festival for Spirituality, Religion and Visionary (IFFSRV), serta Cinema XXI dan Russian Culture Center.

Berikut synopsis singkat keempat film tersebut. Film Freshest menceritakan tentang seorang pria yang hilang dan diculik kemudian terjebak di dalam box sindikat penjualan manusia untuk dijual dan dikonsumsi. Situasi investigasi yang jarang terungkap di masyarakat, namun keberadaannya patut diwaspadai. Seseorang mencoba untuk menolong si pria, namun karena beberapa konflik sehingga si pria tidak tertolong. Film ini dimainkan oleh Wahid, Ruthpakpahan dan Ari suseno. Naskah ditulis oleh Eraldys Webyansyah beranggotakan 8 orang team, dipimpin oleh Fahmy Ardhi Sucipto selaku Sutradara, Yudistira Panji Nugraha selaku editor dan Fahmy Ardhi Sucipto selaku animator.

Film Cinta Cita menceritakan tentang seorang anak yang memiliki cita-cita luhur yang kemudian diaplikasikan kecintaannya terhadap orang tua. Film yang dimainkan oleh Ismail Manaf, Nafilah dan Imas Susanti ini diproduseri oleh Rizki Briandana, beranggotakan 9 orang team, dipimpin oleh Afrian, sebagai sutradara, Iqbal Alfath selaku astrada, Yunovan Chanif selaku penata gambar sekaligus editor dan Bagus Rizki selaku peñata suara.

Film Sepeda Untuk Shania menceritakan tentang Shania dan Vico, sepasang teman sekelas yang jalan pulangnya searah, selalu bersepeda berdua setiap hari sambil sama-sama saling memendam perasaannya. Sampai akhirnya perasaan mereka dijawab oleh waktu yang memisahkan. Film ini diperankan oleh Alisa Galiamova, Pangeran Bianco dan Alfarisa Putri. Diproduseri dan disutradarai oleh Aditya Rizky Gunanto, Rizki Briandana, Eksekutif Poduser Adi Priyono, Dian Tifayanti, sedangkan Iqbal Alfath selaku Line Producer, Afrian Malik selaku Pimpinan Produksi, Aditya Rizky Gunanto selaku penulis naskah, Yudhistira Utama selaku Penata Kamera, Yunovan Chanif selaku Penata Cahaya, Apriyanto Pratomo selaku Penata Suara, Rival Achmad selaku Penyunting Gambar, Fazri Habibudin selaku Penata Busana & Rias, Saputra Malik selaku Penata Artisti, Bagus Rizki Novagyatna selaku Asst. Sutradara 1, Yudakibo selaku Asst. Sutradara 2 dan Ades Saputra – Dika Ananto – Faris Aditya selaku Penata Musik.

Film Black Box menceritakan tentang seorang messenger yang bertanggung jawab dengan pekerjaannya. Dia dititipkan sebuah bingkisan dari seorang bos mafia untuk dikirim kepada seseorang. Dalam pelaksanaannya, Ali harus melewati berbagai macam cobaan dan konflik yang eksentrik seperti lorong, jalan, pasar di Penang. Sehingga Ali harus berpacu dengan waktu untuk menepati janjinya. Film yang dimainkan oleh Niko Fahrisjah, Cut Elisa, Harivaindaran dan Siti Hajariah. Rizki Briandana selaku Produser, Sutradara dan Penulis Skrip. Fadillah Saleh selaku Penata Gambar, dan Muki Pamungkas selaku editor dan Grafis Desain. Selamat & Sukses untuk Broadcast Fair 2013! (Biro Sekretariat Universitas & Humas / humas@mercubuana.ac.id)

Posted: Dec 31, 1969 (05:00:00 PM)
Ahmad Saiful shared Universitas Mercu Buana Jakarta's status update. BROADCAST FAIR 2013: FILM KARYA DOSEN & MAHASISWA UMB MASUK DALAM SPECIAL SCREENING FESTIVAL FILM INTERNASIONAL

Dalam rangkaian acara Festival Film Internasional dan Broadcast Fair 2013, akan diselenggarakan Premiere Film Special Screening di Cinema XXI Planet Hollywood, 27 November 2013. Empat judul film yang akan diputar adalah Freshest, Cinta Cita, Sepeda Untuk Shania dan Black Box. Empat film tersebut adalah karya mahasiswa dan dosen Broadcasting UMB yang telah memenangkan kompetisi di tingkat nasional maupun internasional pada tahun akademik 2012/2013 lalu. Tentu menjadi kebanggaan tersendiri bagi UMB, karya civitas akademikanya diakui oleh dunia internasional dan bersanding dengan premiere film film internasional lainnya. Tentu hal ini tidak terlepas dari dukungan Bapak Damien Dematra, Founder dan Director International Film Festival for Spirituality, Religion and Visionary (IFFSRV), serta Cinema XXI dan Russian Culture Center.

Berikut synopsis singkat keempat film tersebut. Film Freshest menceritakan tentang seorang pria yang hilang dan diculik kemudian terjebak di dalam box sindikat penjualan manusia untuk dijual dan dikonsumsi. Situasi investigasi yang jarang terungkap di masyarakat, namun keberadaannya patut diwaspadai. Seseorang mencoba untuk menolong si pria, namun karena beberapa konflik sehingga si pria tidak tertolong. Film ini dimainkan oleh Wahid, Ruthpakpahan dan Ari suseno. Naskah ditulis oleh Eraldys Webyansyah beranggotakan 8 orang team, dipimpin oleh Fahmy Ardhi Sucipto selaku Sutradara, Yudistira Panji Nugraha selaku editor dan Fahmy Ardhi Sucipto selaku animator.

Film Cinta Cita menceritakan tentang seorang anak yang memiliki cita-cita luhur yang kemudian diaplikasikan kecintaannya terhadap orang tua. Film yang dimainkan oleh Ismail Manaf, Nafilah dan Imas Susanti ini diproduseri oleh Rizki Briandana, beranggotakan 9 orang team, dipimpin oleh Afrian, sebagai sutradara, Iqbal Alfath selaku astrada, Yunovan Chanif selaku penata gambar sekaligus editor dan Bagus Rizki selaku peñata suara.

Film Sepeda Untuk Shania menceritakan tentang Shania dan Vico, sepasang teman sekelas yang jalan pulangnya searah, selalu bersepeda berdua setiap hari sambil sama-sama saling memendam perasaannya. Sampai akhirnya perasaan mereka dijawab oleh waktu yang memisahkan. Film ini diperankan oleh Alisa Galiamova, Pangeran Bianco dan Alfarisa Putri. Diproduseri dan disutradarai oleh Aditya Rizky Gunanto, Rizki Briandana, Eksekutif Poduser Adi Priyono, Dian Tifayanti, sedangkan Iqbal Alfath selaku Line Producer, Afrian Malik selaku Pimpinan Produksi, Aditya Rizky Gunanto selaku penulis naskah, Yudhistira Utama selaku Penata Kamera, Yunovan Chanif selaku Penata Cahaya, Apriyanto Pratomo selaku Penata Suara, Rival Achmad selaku Penyunting Gambar, Fazri Habibudin selaku Penata Busana & Rias, Saputra Malik selaku Penata Artisti, Bagus Rizki Novagyatna selaku Asst. Sutradara 1, Yudakibo selaku Asst. Sutradara 2 dan Ades Saputra – Dika Ananto – Faris Aditya selaku Penata Musik.

Film Black Box menceritakan tentang seorang messenger yang bertanggung jawab dengan pekerjaannya. Dia dititipkan sebuah bingkisan dari seorang bos mafia untuk dikirim kepada seseorang. Dalam pelaksanaannya, Ali harus melewati berbagai macam cobaan dan konflik yang eksentrik seperti lorong, jalan, pasar di Penang. Sehingga Ali harus berpacu dengan waktu untuk menepati janjinya. Film yang dimainkan oleh Niko Fahrisjah, Cut Elisa, Harivaindaran dan Siti Hajariah. Rizki Briandana selaku Produser, Sutradara dan Penulis Skrip. Fadillah Saleh selaku Penata Gambar, dan Muki Pamungkas selaku editor dan Grafis Desain. Selamat & Sukses untuk Broadcast Fair 2013! (Biro Sekretariat Universitas & Humas / humas@mercubuana.ac.id)

Posted: Dec 31, 1969 (05:00:00 PM)
"SELAMAT TAHUN BARU" buat Adek" Kakak" Abang" Aku Dan lain-Lain.Maaf kan ya kalau aku ada salah ;) :) ^_^
Leony Sarah Shelin Mheisny Cindy Yernii Sinta Destary Donda Retno Stella Sonya Jho Sunggul Dwii Radja Radja Latief Markus Christin Christyanto Roy Roy Okky Choki Chika Jeremi Sony Argado Nurul Andrew Ricky Ridwan Arifin Koko Randi Ali Can Dra Renata EstHer Ferina Jansen JHonando JhonFreddy RÏzky Deni Rezkhi Alvin Ardiansyah Arif Putri Putriani Ryzal David Dayaat Desrael Ester Eben Surya Wilwa Willy Wahyu Anggun Siti Putra Budii Rijki Mawar Dores Roy Enjelynaa Daraa Dion Kasiih Reza Bagas Panji Ferdinandus Faisal Muhammad Masli Adi Ade Ade Aditya Elsi Meli Rengky Terriana Riieya Bhintang Yoland Yopi Dede Alexandro Sittie Baguzt Petrus Ernawati SindAr Deni Benny Juan Anang Fariz Hendra Rialdi Tince Risniaty Ziskasame OliVia Alfredo Widoro Thina Andreas Alfa Widia Ica Dhika Chriiztina Bella Binsar Dody Davit Randi Melpisitumorang Yanti Jessen Irvando Ira Qory Yenli Yudhistira Juper Rolys Irfan Irvan Mufrih Iqbal Surya Beltri

Posted: Dec 31, 1969 (05:00:00 PM)
"SELAMAT TAHUN BARU" buat Adek" Kakak" Abang" Aku Dan lain-Lain.Maaf kan ya kalau aku ada salah ;) :) ^_^
Leony Sarah Shelin Mheisny Cindy Yernii Sinta Destary Donda Retno Stella Sonya Jho Sunggul Dwii Radja Radja Latief Markus Christin Christyanto Roy Roy Okky Choki Chika Jeremi Sony Argado Nurul Andrew Ricky Ridwan Arifin Koko Randi Ali Can Dra Renata EstHer Ferina Jansen JHonando JhonFreddy RÏzky Deni Rezkhi Alvin Ardiansyah Arif Putri Putriani Ryzal David Dayaat Desrael Ester Eben Surya Wilwa Willy Wahyu Anggun Siti Putra Budii Rijki Mawar Dores Roy Enjelynaa Daraa Dion Kasiih Reza Bagas Panji Ferdinandus Faisal Muhammad Masli Adi Ade Ade Aditya Elsi Meli Rengky Terriana Riieya Bhintang Yoland Yopi Dede Alexandro Sittie Baguzt Petrus Ernawati SindAr Deni Benny Juan Anang Fariz Hendra Rialdi Tince Risniaty Ziskasame OliVia Alfredo Widoro Thina Andreas Alfa Widia Ica Dhika Chriiztina Bella Binsar Dody Davit Randi Melpisitumorang Yanti Jessen Irvando Ira Qory Yenli Yudhistira Juper Rolys Irfan Irvan Mufrih Iqbal Surya Beltri

Posted: Dec 31, 1969 (05:00:00 PM)
Arya Pratama Yudhistira shared a link. Football Manager on Facebook! Create and manage your own Football club.

Posted: Dec 31, 1969 (05:00:00 PM)
Assalamualaikum luuuuurr.....

Menyakitkan ketika kta menemukan org yg berarti, hnya untuk belajar bgaimna untuk melepaskanya . Iklas .

Nawaitu budal kluyuran

Goog pgi all

Posted: Dec 31, 1969 (05:00:00 PM)
Sepine reekkk .......

Mlm all

Posted: Dec 31, 1969 (05:00:00 PM)
BROADCAST FAIR 2013: FILM KARYA DOSEN & MAHASISWA UMB MASUK DALAM SPECIAL SCREENING FESTIVAL FILM INTERNASIONAL

Dalam rangkaian acara Festival Film Internasional dan Broadcast Fair 2013, akan diselenggarakan Premiere Film Special Screening di Cinema XXI Planet Hollywood, 27 November 2013. Empat judul film yang akan diputar adalah Freshest, Cinta Cita, Sepeda Untuk Shania dan Black Box. Empat film tersebut adalah karya mahasiswa dan dosen Broadcasting UMB yang telah memenangkan kompetisi di tingkat nasional maupun internasional pada tahun akademik 2012/2013 lalu. Tentu menjadi kebanggaan tersendiri bagi UMB, karya civitas akademikanya diakui oleh dunia internasional dan bersanding dengan premiere film film internasional lainnya. Tentu hal ini tidak terlepas dari dukungan Bapak Damien Dematra, Founder dan Director International Film Festival for Spirituality, Religion and Visionary (IFFSRV), serta Cinema XXI dan Russian Culture Center.

Berikut synopsis singkat keempat film tersebut. Film Freshest menceritakan tentang seorang pria yang hilang dan diculik kemudian terjebak di dalam box sindikat penjualan manusia untuk dijual dan dikonsumsi. Situasi investigasi yang jarang terungkap di masyarakat, namun keberadaannya patut diwaspadai. Seseorang mencoba untuk menolong si pria, namun karena beberapa konflik sehingga si pria tidak tertolong. Film ini dimainkan oleh Wahid, Ruthpakpahan dan Ari suseno. Naskah ditulis oleh Eraldys Webyansyah beranggotakan 8 orang team, dipimpin oleh Fahmy Ardhi Sucipto selaku Sutradara, Yudistira Panji Nugraha selaku editor dan Fahmy Ardhi Sucipto selaku animator.

Film Cinta Cita menceritakan tentang seorang anak yang memiliki cita-cita luhur yang kemudian diaplikasikan kecintaannya terhadap orang tua. Film yang dimainkan oleh Ismail Manaf, Nafilah dan Imas Susanti ini diproduseri oleh Rizki Briandana, beranggotakan 9 orang team, dipimpin oleh Afrian, sebagai sutradara, Iqbal Alfath selaku astrada, Yunovan Chanif selaku penata gambar sekaligus editor dan Bagus Rizki selaku peñata suara.

Film Sepeda Untuk Shania menceritakan tentang Shania dan Vico, sepasang teman sekelas yang jalan pulangnya searah, selalu bersepeda berdua setiap hari sambil sama-sama saling memendam perasaannya. Sampai akhirnya perasaan mereka dijawab oleh waktu yang memisahkan. Film ini diperankan oleh Alisa Galiamova, Pangeran Bianco dan Alfarisa Putri. Diproduseri dan disutradarai oleh Aditya Rizky Gunanto, Rizki Briandana, Eksekutif Poduser Adi Priyono, Dian Tifayanti, sedangkan Iqbal Alfath selaku Line Producer, Afrian Malik selaku Pimpinan Produksi, Aditya Rizky Gunanto selaku penulis naskah, Yudhistira Utama selaku Penata Kamera, Yunovan Chanif selaku Penata Cahaya, Apriyanto Pratomo selaku Penata Suara, Rival Achmad selaku Penyunting Gambar, Fazri Habibudin selaku Penata Busana & Rias, Saputra Malik selaku Penata Artisti, Bagus Rizki Novagyatna selaku Asst. Sutradara 1, Yudakibo selaku Asst. Sutradara 2 dan Ades Saputra – Dika Ananto – Faris Aditya selaku Penata Musik.

Film Black Box menceritakan tentang seorang messenger yang bertanggung jawab dengan pekerjaannya. Dia dititipkan sebuah bingkisan dari seorang bos mafia untuk dikirim kepada seseorang. Dalam pelaksanaannya, Ali harus melewati berbagai macam cobaan dan konflik yang eksentrik seperti lorong, jalan, pasar di Penang. Sehingga Ali harus berpacu dengan waktu untuk menepati janjinya. Film yang dimainkan oleh Niko Fahrisjah, Cut Elisa, Harivaindaran dan Siti Hajariah. Rizki Briandana selaku Produser, Sutradara dan Penulis Skrip. Fadillah Saleh selaku Penata Gambar, dan Muki Pamungkas selaku editor dan Grafis Desain. Selamat & Sukses untuk Broadcast Fair 2013! (Biro Sekretariat Universitas & Humas / humas@mercubuana.ac.id)

Posted: Dec 31, 1969 (05:00:00 PM)
MAHABARATA
EPS 67
Sumpah Arjuna bahwa ia akan membunuh
Jayadrata, putra Raja Wridaksatra, sebelum
matahari terbenam terdengar oleh pihak
Kaurawa lewat mata-mata mereka.
Pada waktu Jayadrata lahir , ayahnya
mendengar suara gaib yang berkata, “Kelak
bayi ini akan mencapai kemasyhuran dan
kebesaran, dan akan tewas ditangan
musuhnya dalam suatu pertempuran
besar. Dengan demikian, ia akan mencapai
tempat yang layak bagi seorang kesatria
dialam baka. Ia akan menemui ajalnya
dengan kepala terpisah dari tubuhnya.”
Raja Wridaksatra sedih mendengar suara
gaib yang meramalkan kematian anaknya
kelak. Dengan hati kusut dan pikiran kacau
ia mengucapkan kutuk-pastu, “Siapa yang
kelak menyebabkan kepala anakku
terguling-guling di tanah, kepalanya akan
pecah berantakan.”
Ketika Jayadrata telah dewasa, Raja
Wridaksatra menyerahkan Kerajaan
Sindhu kepadanya. Kemudian ia menyepi
ke hutan untuk bertapa. Hutan tempatnya
bertapa kebetulan dekat dengan padang
Kurukshetra, tempat berlangsungnya
perang besar Bharatayuda.
“Aku tidak ingin terlibat lagi dalam
peperangan ini. Aku akan kembali ke
negeriku,” kata Jayadrata kepada
Duryodhana setelah mendengar berita
tentang sumpah Arjuna.
“Jangan khawatir, Saudaraku. Semua
kesatria perkasa ada di pihak kita. Kami
senantiasa siap melindungimu jika
keselamatanmu terancam. Karna,
Citrasena, Bhurisrawa, Salya, Drona,
Sakuni,Purumitra, Satyawrata, Duhsasana,
Wikarna, Durmukha, Subahu, Awanti, dan
aku sendiri siap membelamu. Hari ini aku
akan mengerahkan seluruh balatentara
Kaurawa untuk melindungimu dari
serangan Arjuna. Jangan khawatir, engkau
tidak perlu pergi hari ini,” kata Duryodhana
membujuk Jayadrata agar tidak
meninggalkan perkemahan Kaurawa.
Untuk meyakinkan diri, Jayadrata pergi
menemui Mahaguru Drona. Ia berkata,
“Mahaguruku, engkau telah mengajar
kami, aku dan Arjuna. Engkau sangat
mengenal kami berdua. Bagaimana
penilaianmu terhadap kami berdua?”
Drona menjawab demikian, “Anakku, aku
telah selesaikan tugasku sebagai guru,
mengajar engkau berdua tanpa pilih kasih.
Ajaran yang kuberikan kepadamu dan
kepada Arjuna sama. Tetapi, rupanya
Arjuna lebih maju karena usahanya sendiri.
Ia rajin menempuh berbagai bahaya,
mencari pengalaman dan berlatih dengan
tekun. Tapi, engkau tidak perlu cemas
karena pasukan yang amat kuat akan
ditempatkan di depanmu. Arjuna pasti sulit
menembusnya.
“Bertempurlah sesuai tradisi para
pendahulumu yang gagah berani.
Kematian akan menjumpai kita semua,
tanpa kecuali. Kesatria yang mati di medan
pertempuran akan mencapai surga dengan
mudah. Hilangkan kecemasanmu dan
berjuanglah!”
Setelah berkata demikian, Mahaguru
Drona mengatur balatentara Kaurawa
dalam formasi bunga teratai. Di pusat
bunga itu, Jayadrata aman terlindung dan
berada kira-kira 180 pal di belakang
barisan paling luar. Ia didamping pasukan
yang dipimpin Bhurisrawa, Karna,
Aswatthama, Salya, Wrishasena dan Kripa.
Lingkaran pasukan paling dalam diatur
dalam formasi bunga teratai, langsung
dipimpin Drona. Di depannya, berjajar
pasukan dalam formasi pakis sebagai
pasukan tempur. Mahasenapati Drona naik
kereta kebesaran yang ditarik empat ekor
kuda berbulu cokelat abu-abu, dihiasi
panji-panji lambangnya sebagai
mahasenapati. Ia berdiri di kereta,
mengenakan mahkota mahasenapati dan
membawa busur panah putih cemerlang
dan senjata-senjata sakti lainnya.
Keperkasaan mahasenapati itu membuat
Duryodhana yakin bahwa hari itu Kaurawa
pasti menang.
Demikianlah, di hari keempat belas,
dengan kekuatan seribu kereta perang,
seratus barisan gajah, tiga ribu barisan
pasukan berkuda, sepuluh ribu prajurit
peretas jalan, dan seribu lima ratus prajurit
penyergap, Kaurawa maju ke medan
perang. Diujung depan berdiri
Durmashana, salah satu putra Dritarastra.
Ia ditugaskan untuk meniup terompet dan
meneriakkan tantangan kepada Arjuna.
Tantangan itu diterima Arjuna, yang telah
maju sampai sejauh selemparan anak
panah dari Durmashana.
Pasukan penyergap yang dipimpin
Durmashana kocar kacir karena mendadak
diserang oleh Arjuna. Duhsasana mencoba
menolong saudaranya, tetapi dikalahkan
Arjuna dan terpaksa melarikan diri,
berlindung pada Drona.
Arjuna lalu berhadapan dengan Drona.
Setelah menyembah Gurunya, ia berkata
bahwa kedatangannya adalah untuk
membalas kematian Abhimanyu dan
melaksanakan sumpahnya untuk
membunuh Jayadrata. Kata-katanya
dijawab Drona dengan ucapan bahwa
Arjuna takkan bisa maju sebelum berhasil
menaklukkan dirinya.
Maka kedua kesatria itu saling
membidikkan anak panah. Drona
menggunakan panah api, Arjuna
membalas dengan panah air. Perang
panah itu berlangsung cukup lama.
Masing-masing sama saktinya dan sama-
sama memiliki panah sakti.
Suatu kali, kedua panah mereka
berbenturan, menimbulkan ledakan dan
membuat langit tiba tiba menjadi gelap.
Pada kesempatan itulah Krishna
menasihati Arjuna agar menyelinap,
menghindari Drona, lalu menembus
pasukan Kaurawa dari samping sambil
maju sampai ke tempat Jayadrata.
Arjuna berhasil menembus pertahanan
Kaurawa lalu berhadapan dengan pasukan
Negeri Bhoja. Di bawah pimpinan
Kritawarma dan Sudakshina, dalam
sekejap mata pasukan itu dapat dikalahkan
oleh Arjuna. Putra Pandu itu kemudian
berhadapan dengan Srutayudha, putra
Dewi Parnasa, yang telah bertapa dan
memperoleh senjata sakti dari Batara
Baruna.
Senjata sakti itu diberikan kepada
Srutayudha dengan pesan bahwa tak ada
musuh yang akan dapat menaklukkannya.
Tetapi, senjata itu tidak boleh digunakan
untuk melawan orang yang tidak
bertempur, sebab ia akan berbalik
menyerang pemiliknya. Dalam pergulatan
melawan Arjuna, Srutayudha malah
menggunakan senjata itu untuk
menggempur Krishna, sais kereta Arjuna.
Ia tidak tahu, Krishna telah bersumpah
tidak akan mengangkat senjata dalam
pertempuran Bharatayuda. Sewaktu ia
membidikkan senjatanya ke arah Krishna
untuk melumpuhkan kereta Arjuna,
senjata tersebut berbalik ke arahnya dan
menembus dadanya sendiri. Tewaslah
Srutayudha.
Raja Negeri Kamboja, saudara Srutayudha,
bersama kedua putranya,
menggantikannya menghadapi Arjuna.
Mereka bertiga gugur ditangan Arjuna yang
sedang mengamuk.
Duryodhana cemas melihat cepatnya
Arjuna menembus pertahanan Kaurawa. Ia
segera menemui Drona dan memprotes
sikap mahaguru itu, “Arjuna menyebabkan
pasukan kita kocar-kacir. Mereka yang
mengelilingi Jayadrata yakin, tidak akan
semudah itu Arjuna menerobos pasukan
kita. Buktinya, sekarang ia sudah hampir
mendekati Raja Sindhu. Para prajuritku
sudah kehilangan keberanian. Arjuna dapat
melewatimu tanpa perlawanan. Aku yakin,
pasti ada yang tidak beres. Rupanya
engkau memihak Pandawa dan
membiarkan anak Pandu itu menghabisi
para prajuritku tanpa perlawanan berarti.
“Ketahuilah, aku telah menahan Jayadrata
agar jangan kembali ke negerinya.
Sekarang Arjuna akan menggempurnya.
Jayadrata pasti akan menemui ajalnya. Aku
merasa berdosa. Pergilah engkau dan
selamatkanlah nyawa Raja Sindhu.”
Mendengar kata-kata Duryodhana, Drona
menjawab, “Tuanku Raja, tak ada gunanya
aku menanggapi kata katamu yang kau
ucapkan tanpa dipikirkan lebih dahulu.
“Wahai muridku, bagiku engkau tak beda
dengan anakku sendiri.Ambil senjata ini
dan hadang Arjuna. Aku tidak bisa
meninggalkan medan ini, sebab Yudhistira
akan segera sampai disini bersama
pasukannya yang paling kuat.
“Lihatlah asap dan debu yang menandakan
gerakan pasukan Pandawa. Yudhistira
maju tanpa didampingi Arjuna. Ini
kesempatan bagi kita untuk menculik dia.
Kita tidak boleh membatalkan rencana kita
untuk menangkap dia hidup-hidup. Kalau
aku pergi menggempur Arjuna, pasukan
kita akan berantakan. Pergilah engkau
berbekal senjata yang dapat
memusnahkan musuh. Kenakan jubah
yang tidak bisa ditembus senjata apa pun.
Semoga engkau berhasil dan menang!”
kata Drona dengan sabar.
Setelah menerima senjata sakti dari Drona
dan mengenakan jubah gaib, dengan
diiringkan pasukan amat besar
Duryodhana menyerang Arjuna dengan
hati mantap.
Sementara itu, Arjuna sudah jauh
menembus formasi pasukan Kaurawa.
Waktu Krishna hendak menghentikan
keretanya dan membiarkan kuda-kudanya
beristirahat sebentar, tiba-tiba dua
bersaudara, Winda dan Anuwinda ,
menyerangnya. Tetapi, seperti para
kesatria sebelumnya, dengan mudah
Arjuna menewaskan mereka.
Ketika Arjuna dan Krishna sedang duduk-
duduk beristirahat dan kuda mereka
sedang makan rumput, dari kejauhan
Duryodhana datang mendekat sambil
berteriak lantang, “Kata orang engkau
gagah berani dan pandai bertempur. Aku
belum pernah melihat kehebatanmu
dengan mataku sendiri. Sekarang aku ingin
menyaksikan kemahiranmu berperang. Hai
Arjuna, bangkitlah!”
Arjuna dan Duryodhana bertempur
dengan hebat. Krishna heran sebab setiap
anak panah yang dilepaskan dari
Gandiwanya mental, tak bisa melukai
Duryodhana. Ia lalu berkata, “Aneh!
Apakah Gandiwamu sudah kehilangan
kesaktiannya? Tak satu pun anak panahmu
bisa melukai Duryodhana. Seperti batang
ilalang, anak panahmu berjatuhan setelah
menyentuh tubuhnya. Aku bingung.”
Arjuna tersenyum sambil berkata, “Ya, aku
tahu. Duryodhana pasti mendapat
pinjaman senjata dari Drona. Mahaguru
pernah mengajarkan padaku, bagaimana
caranya melumpuhkan kekebalan dan
kesaktian senjata itu. Engkau akan melihat
kejadian lucu nanti.”
Sambil berkata demikian, Arjuna terus
melepaskan anak panahnya untuk
melumpuhkan kuda, kereta, dan sais
Duryodhana. Pikirnya, pasukan Kaurawa
akan mudah dilucuti. Kemudian Arjuna
melepaskan sebatang anak
panah kecil yang mengandung racun
penyengat ke arah tubuh Duryodhana
yang tidak tertutup jubah. Bagaikan
disengat lebah besar beracun, Duryodhana
lari sambil berteriak-teriak kesakitan. Anak
panah kecil itu tepat mengenai tubuhnya.
Kemudian Krishna meniup trompet
kerangnya. Bunyinya menggema sampai
terdengar oleh pasukan yang mengawal
Jayadrata. Mereka kaget sekali. Para
senapati mereka, yaitu Karna, Salya,
Bhurisrawa, Aswatthama, Wisbasena, Chala
dan Jayadrata lalu menyiagakan pasukan
mereka masing-masing.
Sementara itu, Dristadyumna, yang dengan
mahir mengemudikan keretanya yang
ditarik empat kuda berbulu putih seputih
bulu merpati. Ia menyerang Drona,
menebas tali kekang kuda-kuda penarik
keretanya dan menyusulnya dengan
serangan dari tangga dan dari samping
kereta. Alangkah perkasanya kedua
kesatria itu. Sebentar mendekat,kemudian
menjauh, lalu mendekat lagi. Masing-
masing dengan kereta dan kuda yang tegap
dan kokoh.
Pertarungan itu berlangsung lama. Drona
tidak mudah ditaklukkan. Nyawa
Dristadyumna nyaris melayang kalau tidak
diselamatkan oleh Satyaki. Pada saat yang
genting, kesatria itu datang mendekat
sambil merentangkan busurnya dan
membidik busur Drona. Kena !
Dristadyumna dapat diselamatkan,
sementara para kesatria yang terluka
dilarikan ke tempat yang aman.
Bagaikan ular kobra raksasa, Mahaguru
Drona menyerang Satyaki yang
menantangnya dengan berkata, “Engkau
brahmana yang meninggalkan
kewajibanmu sebagai pendita dan memilih
berlaga di medan perang. Engkau
membuat Pandawa terpaksa bertempur
mati-matian. Engkau membuat
Duryodhana semakin sombong. Engkau
harus menerima buah perbuatanmu.”
Sungguh sengit pertarungan Satyaki
dengan Drona. Pasukan kedua pihak
sampai berhenti berperang. Para
penonton kagum melihat pertarungan dua
senapati sakti itu. Berkali-kali kereta
mereka bertumbukan. Panji-panji mereka
sudah jatuh. Meskipun masing-masing luka
parah, mereka tetap bertempur dengan
gagah berani. Setiap anak panah yang
dilepaskan Drona selalu berhasil
dipatahkan oleh Satyaki dengan
menghantam busur Drona. Tidak kurang
dari seratus busur Drona telah dipatahkan
Satyaki.
Drona berkata dalam hati, “Kesatria ini
pantas disejajarkan dengan Sri Rama,
Kartawirya, Arjuna, atau Bhisma.”
Ia menyerang Satyaki dengan senjata
penyembur api. Serangan itu dibalas
Satyaki dengan senjata penyembur air.
Akhirnya, betapa pun kuatnya Satyaki, ia
lemas dan kehilangan banyak tenaga
karena luka-lukanya. Mengetahui itu,
Drona bersiap untuk menyerang,seperti
seekor kucing hendak menerkam anak
burung. Melihat itu, Yudhistira segera
memerintahkan para perwira yang ada di
dekatnya untuk menyelamatkan Satyaki.
Untunglah mereka berhasil.
Baru saja Satyaki berhasil diselamatkan,
Yudhistira mendengar bunyi trompet
kerang Krishna melengking nyaring. Tetapi,
ia tidak mendengar bunyi desing anak
panah yang dilepaskan dari Gandiwa
Arjuna. Yudhistira cemas, tidak mungkin
terompet kerang Krishna dibunyikan tanpa
dibarengi ledakan Gandiwa Arjuna. Pasti
Arjuna terkena malapetaka, pikir
Yudhistira. Pasti Arjuna dikepung musuh.
Mungkin malah sudah dibunuh dan
Krishna terpaksa mengangkat senjata dan
melawan Kaurawa.
Ia memanggil Satyaki dan berkata
kepadanya, “Satyaki, engkau sahabat
Arjuna yang terdekat. Tak ada yang tak
dapat kau lakukan untuk menolong Arjuna.
Aku yakin, Arjuna pasti sudah dikepung
musuh. Jayadrata adalah kesatria sakti
yang didukung berpuluh-puluh kesatria
terbaik Kaurawa. Waktu kami hidup dalam
pengasingan, Arjuna pernah berkata
bahwa tak ada prajurit yang sebaik Satyaki.
Pergilah engkau segera, bantulah Arjuna!”
Dalam keadaan masih lemas, Satyaki
menjawab, “Wahai Raja yang tak pernah
berbuat dosa, aku akan lakukan
perintahmu. Apa yang tidak kulakukan
demi Arjuna? Nyawaku bagaikan setitik
embun dalam samudera, tak ada artinya.
Demikianlah pengabdianku kepada
Pandawa. Tetapi ijinkan aku mengatakan
bahwa Krishna dan Arjuna telah berpesan:
sesaat pun aku tidak boleh
meninggalkanmu sebelum mereka kembali
dari menghabisi Jayadrata. Kata mereka,
‘Waspadalah dalam menjaga Yudhistira.
Kami percayakan keselamatannya
padamu. Drona berniat menculiknya.’
“Demikian pesan mereka. Sekarang kau
perintahkan aku menolong Arjuna.
Sesungguhnya kesaktian Arjuna tidak perlu
disangsikan. Kekuatan Jayadrata dan para
kesatria yang mengelilinginya tidak lebih
dari seperenam belas kekuatan Arjuna.
Kalau aku pergi, kepada siapa aku dapat
mempercayakan keselamatanmu,
Dharmaputra? Tak seorang pun di sini
yang dapat menahan serangan Drona
kalau ia datang menculikmu. Pikirkanlah
masak-masak!”
“Satyaki, aku telah pikirkan masak-masak.
Pergilah engkau dengan ijinku. Jangan
khawatir, di sini ada Bhima, Dristadyumna
dan yang lain. Jangan khawatirkan diriku,”
kata Yudhistira yang lalu menyuruh orang
menyiapkan senjata dan kereta untuk
Satyaki.
“Bhimasena, jagalah Dharmaputra. Hati-
hatilah engkau,” kata Satyaki kepada Bhima
sesaat sebelum ia melecut kudanya
menuju ke tempat Arjuna bertempur
melawan Jayadrata.
Mengetahui Satyaki pergi, Drona kembali
menyerang Yudhistira dengan serangan
yang lebih hebat dan pasukan lebih kuat.
Sudah lewat tengah hari, tetapi Arjuna
belum juga kembali. Demikian pula
Satyaki. Yudhistira cemas dan bingung,
lebih-lebih karena pasukan Kaurawa yang
dipimpin Drona semakin dekat.
“Bhima, aku makin cemas. Matahari telah
condong ke barat, tetapi tidak ada tanda-
tanda mereka akan kembali,” kata
Yudhistira kepada Bhimasena.
“Aku belum pernah melihat engkau
bingung seperti sekarang,” jawab Bhima.
“Katakan apa yang harus kulakukan. Jangan
biarkan pikiranmu terbenam dalam rasa
cemas.”
“Bhimasena, aku khawatir saudaramu telah
tewas dibunuh musuh. Bunyi trompet
Krishna tanpa dibarengi ledakan Gandiwa
Arjuna membuatku bingung. Mungkin
Krishna sudah mengangkat senjata,
padahal ia telah bersumpah tidak akan
mengangkat senjata. Pergilah engkau,
bergabunglah dengan mereka dan Satyaki.
Lakukan apa yang harus kau lakukan dan
kembalilah segera. Jika bertemu mereka
dalam keadaaan hidup, mengaumlah
seperti singa — auman yang biasa engkau
perdengarkan,” perintah Yudhistira kepada
Bhimasena.
“Raja yang kuhormati, jangan engkau
bingung. Aku akan pergi menuruti
perintahmu,” jawab Bhima. Ia menoleh
kepada Dristadyumna dan berkata
kepadanya, “Panchala, kau tahu secara
terperinci niat Drona menangkap
Dharmaputra hidup-hidup untuk
diserahkan kepada Duryodhana. Tugas kita
yang utama adalah menyelamatkan dia.
Tetapi aku harus taat pada perintahnya.
Aku percayakan dia kepadamu. Jagalah dia
baik-baik!”
Dalam perjalanan menuju tempat Arjuna,
Bhima harus bertempur melawan pasukan
Kaurawa yang dipimpin Drona. Bagaikan
seekor singa menerjang gerombolan rusa,
Bhima membunuh sebelas putra Maharaja
Dritarastra hingga ia berada dekat sekali
dengan Drona. Gurunya itu berkata bahwa
Bhima tidak bisa lewat begitu saja tanpa
lebih dulu mengalahkannya. Drona
mengira Bhima akan berbuat seperti
Arjuna ketika menerobos pasukan
Kaurawa untuk mencapai tempat
Jayadrata, yaitu dengan penuh hormat
menghindari gurunya.
Tetapi Bhimasena lain. Dengan tegas ia
membalas tantangan Drona. Katanya,
“Wahai Brahmana, bukan karena ijinmu
Arjuna dapat menerobos pasukan
Kaurawa. Yang benar, itu terjadi karena
engkau memang setengah hati melawan
Arjuna. Arjuna selalu sangat
menghormatimu. Dengan aku urusannya
lain ! Dulu engkau memang guruku,
sekaligus ayah bagi kami. Tetapi sekarang
engkau musuhku. Dulu kami
menghormatimu. Tetapi sekarang engkau
sendiri telah memutuskan untuk menjadi
musuh kami. Baiklah, kau menentukan
pilihan dengan sadar. Bagi kami, tidak ada
pilihan lain.”
Sambil berkata demikian, Bhima
melemparkan gada ke kereta Drona.
Kereta itu hancur! Drona mengganti
keretanya dengan yang baru. Tetapi begitu
diganti, ia digempur lagi oleh Bhimasena.
Delapan kereta Drona diremukkan.
Selanjutnya Drona dibantu pasukan Negeri
Bhoja, tetapi pasukan itu juga
dilumpuhkan Bhimasena. Kesatria
Pandawa itu maju sampai ke dekat tempat
Arjuna bertarung melawan Jayadrata.
Segera setelah melihat Arjuna, Bhimasena
mengaum bagai singa lapar. Suaranya
berkumandang di udara. Krishna dan
Arjuna mendengar Bhima mengaum, lalu
membalas dengan isyarat penuh
kegembiraan. Sayup-sayup Dharmaputra
mendengar auman Bhima. Maka hilanglah
segala kecemasan dan keraguannya. Serta
merta ia memanjatkan doa dan
mengucapkan mantra demi keselamatan
Arjuna.
Pertempuran berkobar di mana-mana.
Duryodhana mengeluh lagi kepada Drona.
Katanya, “Arjuna, Satyaki dan Bhimasena
menghadapi kita dengan cerdik dan kita
hampir mati konyol. Dengan mudah
mereka bisa menerobos sampai ke tempat
Raja Sindhu.
“Aneh, dibawah pimpinanmu pasukan kita
selalu kocar-kacir. Setiap orang bertanya
kepadaku. Bagaimana Drona bisa seperti
itu, padahal dia kesatria besar, ahli
berbagai strategi perang dan menguasai
segala macam senjata? Mengapa dia selalu
ditaklukkan Pandawa dengan mudah?
Jawaban apa yang dapat kuberikan kepada
mereka? Apakah engkau berniat
mengkhianatiku?”
“Duryodhana, tuduhanmu tidak beralasan
karena tidak didasarkan kebenaran. Tidak
ada gunanya bicara yang tidak perlu.
Situasi saat ini sedang sangat gawat. Jangan
buang-buang waktu. Tiga senapati musuh
sudah maju mengepung kita. Tetapi, kita
tidak usah cemas atau bingung, karena
kekuatan belakang mereka dipimpin
Yudhistira yang pasti dapat kita kalahkan
dengan mudah. Kini kita berada di kedua
sisi mereka dan itu membuat posisi
mereka tidak aman. Pergilah dan bantulah
Jayadrata sekali lagi. Aku akan menghadapi
pasukan Pandawa yang dipimpin
Yudhistira,” kata Drona menyemangati
Duryodhana, meskipun sebenarnya ia
tersinggung karena hinaan putra mahkota
Kaurawa itu.
Ketika Bhima sampai di dekat Arjuna,
Karna berteriak mengejek dan
menantangnya, “Ooo... ini orangnya!
Kesatria rakus berperut gendut yang tidak
tahu apa-apa tentang ilmu perang. Kalau
kau memang berani, jangan berbalik
punggung dan kabur meninggalkan medan
perang seperti pengecut!”
Bhimasena tidak tahan mendengar hinaan
itu. Segera ia mendekati Karna, siap
menghantamnya. Sambil tersenyum Karna
mengelak, menjauhkan diri. Sebaliknya,
dengan wajah merah padam Bhimasena
terus maju menggempur Karna.
Maka, terjadilah pertempuran hebat antara
kedua jagoan itu. Karna selalu menghindari
perkelahian jarak dekat dengan terus
menerus melepaskan anak panah ke arah
Bhima. Tak terhitung banyaknya anak
panah yang menancap di tubuh kesatria
Pandawa itu. Tetapi raga Bhima sangat
kokoh bagai baja, sedikit pun ia tidak
merasa sakit. Dia terus maju. Darah
menetes dari lukanya, bagaikan bunga-
bunga asoka merah berguguran. Dengan
tangkas berkali-kali dia menghantamkan
gadanya pada kereta Karna sampai kereta
itu hancur berantakan. Setelah itu ia
menjauh, sementara Karna mengganti
keretanya. Beberapa kali demikianlah yang
terjadi. Karna mengganti keretanya dan
Bhimasena menghancurkannya. Semangat
Bhima berkobar-kobar karena ia ingat
penghinaan Kaurawa terhadap Draupadi
dan saudara-saudaranya.
Untuk kesekian kalinya, mereka memacu
kereta masing-masing, saling mendekat.
Kereta Karna ditarik empat kuda berbulu
putih susu, kereta Bhima ditarik empat
kuda berbulu hitam arang. Pertarungan
kedua kesatria itu berlangsung sangat seru.
Setiap kali Karna mengangkat busur baru,
Bhimasena mematahkannya dengan
gadanya, sampai akhirnya Karna kehabisan
busur. Ketika Karna sedang kebingungan
kehabisan busur, Bhimasena menghantam
kereta Karna sampai kereta itu hancur.
Terpaksa Karna melompat turun. Pada saat
itulah Duryodhana memanggil Durjaya,
saudaranya, dan memerintahkan, “Kesatria
Pandawa laknat itu akan membunuh
Karna. Cepatlah ke sana ! Serang dia !
Halangi dia ! Hantam dia ! Selamatkan
Karna !”
Serangan Durjaya disambut Bhimasena
dengan tangkas, lebih-lebih karena ia telah
bersumpah hendak membunuh semua
anak Dritarastra. Dalam waktu singkat
Bhimasena dapat mematahkan pukulan
Durjaya. Dia melemparkan beberapa gada
serentak. Satu persatu kuda, kereta dan
Durjaya sendiri roboh bagaikan pohon
tumbang. Sementara itu, Karna sempat
mengganti keretanya dengan yang baru.
Pertarungan berulang antara Karna dan
Bhimasena. Kali ini makin seru ! Panah-
memanah, lembing-melembing, tombak-
menombak tidak henti-hentinya. Tetapi
gada Bhima lagi-lagi tepat mengenai kereta
Karna yang baru, sais dan keretanya
remuk,terserak di tanah.
Karna kini berdiri di tanah sambil
merentang busurnya. Duryodhana
mengirimkan saudaranya yang lain, yaitu
Durmuka. Sama seperti Durjaya, Durmuka
pun tewas di tangan Bhimasena. Setelah
menewaskan Durjaya dan Durmuka,
Bhima terus menyerang Karna. Anak
panahnya tepat mengenai jubah Karna
sehingga kesatria itu hampir telanjang
dibuatnya.
Lima saudara Duryodhana datang lagi,
yaitu Durmursa, Dussaha, Durmata,
Durdara dan Jaya. Mereka membantu
Karna menyerang Bhimasena yang dengan
tangkas menghadapi lima kesatria muda
itu. Dengan penuh semangat, bagaikan
pemburu berpengalaman yang girang
melihat lima ekor kijang muda di
depannya, Bhimasena menghantamkan
gada-gadanya ke tubuh lima kesatria itu.
Seketika itu juga kelimanya jatuh
bergelimpangan di tanah... tewas.
Karna merasa malu melihat korban
berjatuhan di hadapannya karena
membela dirinya. Ia menyesal karena tidak
segera menyerang Bhimasena habis-
habisan. Sebaliknya, karena ingat akan
penghinaan Karna di masa lalu, Bhimasena
semakin garang dan ingin segera
membunuhnya. Dengan kereta yang baru
lagi, Karna menyerang Bhimasena.
Meskipun sudah berusaha keras, posisi
Karna selalu terpojok. Hal itu membuat
Duryodhana mengirimkan bantuan lagi.
Tujuh saudaranya, Citra, Upacitra, Citraksa,
Carucitra, Sarasena, Citrayuda dan
Citrawarman, diperintahkan menggempur
Bhimasena. Mereka bertempur dengan
gagah berani. Tetapi Bhimasena
meremukkan mereka bersama kereta
masing-masing.
Kegarangan Bhimasena membuat
Duryodhana sangat marah sekaligus
khawatir akan nasib Karna di tangan
Bhimasena. Untuk kesekian kalinya,
Duryodhana mengirimkan tujuh
saudaranya untuk menggempur
Bhimasena. Tetapi, kesatria Pandawa itu
tidak dapat ditundukkan lagi. Ketujuh
saudara Duryodhana yang baru dikirim
diamuknya hingga tewas.
Ketika pertarungan sedang berlangsung
seru, datanglah Wikarna. Melihat kesatria
itu terlibat dalam pertempuran,
Bhimasena menghantamnya dengan gada
hingga tewas seketika. Melihat itu,
Bhimasena merasa sedih dan menyesal.
Katanya kepada Wikarna sebelum kesatria
itu menghembuskan napasnya yang
terakhir, “ Wahai Wikarna, engkau orang
yang adil dan mengerti arti dharma.
Engkau bertempur karena panggilan
kewajiban, dan aku terpaksa
membunuhmu karena panggilan
kewajiban juga. Perang ini sangat terkutuk,
lebih-lebih karena orang sebaik engkau
dan Bhisma menjadi korban.”
Karna tak bisa lagi tersenyum-senyum.
Wajahnya merah padam, menahan malu
dan amarah. Ia malu karena tak bisa
mengalahkan Bhimasena dan marah
karena melihat korban berjatuhan di
depannya padahal mereka diutus untuk
membelanya.
Pasukan kedua pihak tertegun
menyaksikan pertarungan Karna dan
Bhimasena. Sama kuatnya, sama
tangkasnya, sama saktinya. Suatu saat
Bhimasena tersudut. Keretanya hancur,
kuda-kudanya mati. Ia terpaksa melompat
turun lalu berlari mendekati Karna.
Dengan tangkas ia melompat naik ke
kereta musuhnya. Bhima mengayunkan
gadanya, tetapi Karna mengelak dan
berlindung di belakang tiang panji-
panjinya. Ia bahkan sempat menghantam
punggung Bhimasena hingga kesatria
Pandawa itu terjungkal ke tanah.
Kini Bhimasena tak punya senjata lagi.
Gadanya yang terakhir remuk dihantam
Karna. Tetapi ia tidak mau menyerah
begitu saja. Apa saja yang dapat diambilnya
dijadikannya senjata: roda kereta, tombak
patah, mayat musuh, bangkai gajah.
Dengan cekatan ia menggunakan senjata
senjata itu untuk menyerang Karna. Karna
membalas. Sekarang keselamatan Bhima
terancam, tanpa kereta tanpa senjata.
Sesaat kesatria Pandawa itu tertegun, mati
langkah.
Kesempatan itu digunakan Karna untuk
menghina dan mencaci maki Bhimasena
yang sudah tak berdaya.
Krishna berkata kepada Arjuna, “ Lihat
Dhananjaya, Bhimasena tidak berdaya dan
dihina oleh Karna.”
Melihat saudaranya dihina, Arjuna tak
dapat menahan diri lagi. Ia merentangkan
Gandiwanya, memasang sebatang anak
panah sakti, membidikkannya, lalu
melepaskannya. Semua itu dilakukannya
dalam sekejap mata. Terdengar bunyi
ledakan ketika anak panah itu lepas dari
busurnya, meluncur cepat lalu menancap
tepat pada sasaran. Kereta Karna
bergoyang hebat. Penunggangnya jatuh.
Karna memandang ke segala arah, mencari
orang yang mencederainya. Ketika tahu
serangan itu dilancarkan Arjuna, hatinya
senang karena ia ingat akan sumpahnya di
depan Dewi Kunti.
Sementara itu, kedatangan Satyaki justru
membuat Arjuna khawatir karena kesatria
itu sebenarnya ditugaskan menjaga
Yudhistira, lebih-lebih karena Bhurisrawa
ada di sekitar situ. Arjuna tahu, keluarga
Satyaki dan keluarga Bhurisrawa sudah
bermusuhan sejak jaman nenek moyang
mereka.
Dahulu, ada seorang gadis cantikbernama
Dewaki. Kecantikan dan kehalusan budinya
terkenal di mana-mana hingga banyak
putra mahkota kerajaan ingin
menyuntingnya. Timbullah persaingan
keras diantara mereka. Waktu itu putra
mahkota Dwaraka yang masih perjaka
mengutus Sini untuk bertarung atas
namanya, melawan Somadatta , untuk
memperebutkan Dewaki. Sini
memenangkan pertempuran itu,
melarikan Dewaki dan menyerahkan putri
itu kepada putra mahkota Dwaraka. Tak
lama kemudian putra mahkota itu
diangkat menjadi Raja Dwaraka dan
menikahi Dewaki. Pasangan itu dikaruniai
tiga anak, Balaputra atau Baladewa,
Krishna, dan Subadra.
Sejak itu permusuhan antara Sini dan
Somadatta tak dapat didamaikan, bahkan
sampai turun-temurun. Satyaki adalah
cucu Sini, dan Bhurisrawa adalah anak
Somadatta.
Waktu Bhurisrawa melihat Satyaki, seketika
itu juga rasa permusuhan berkobar di
dadanya. Bhurisrawa yang sudah lanjut
usia itu menantang Satyaki dengan
berkata, “Sombong benar engkau,
menganggap diri kesatria besar tak
terkalahkan. Tunjukkan kekuatanmu.
Temui ajalmu di tanganku. Sudah lama aku
menunggu pertemuan ini. Akan kukirim
kau secepatnya ke hadapan Batara Yama.”
Satyaki menjawab sambil tersenyum,
“Tutup mulutmu! Tak ada gunanya omong
besar. Kata-kata bukan ukuran perbuatan.
Jangan coba menakut-nakuti orang yang
sudah siap bertempur. Tunjukkan
kegagahanmu dan jangan berkhayal.”
Setelah saling melontarkan kata-kata
ejekan, mereka terlibat pertarungan yang
sangat dahsyat.
Kereta mereka saling bertumbukan, kuda-
kuda terbunuh, kereta hancur, busur
patah-patah. Mereka berdiri di tanah,
sama-sama memegang perisai dan
menghunus pedang. Terjadilah
pertarungan sengit. Mereka saling
menebaskan pedang dan saling menangkis.
Setelah pedang dan perisai hancur, mereka
bergulat, banting-membanting. Sebentar
Bhurisrawa berada di bawah, sebentar
kemudian Satyaki yang tertindih.
Saat itu Arjuna masih sibuk menghadapi
pasukan Jayadrata. Krishna yang melihat
Satyaki mulai lemas, berkata kepada
Arjuna, “Dhananjaya, Satyaki tampak
kehabisan napas. Bhurisrawa mungkin
akan berhasil membunuhnya. Satyaki
datang untuk membantumu, tapi ia
terpaksa bertarung dengan Bhurisrawa
karena ditantang olehnya. Pertarungan
mereka tidak seimbang, karena Satyaki
tidak bersenjata lengkap. Kalau engkau
tidak membantu Satyaki, ia pasti mati
dibunuh Bhurisrawa.”
Arjuna tidak menghiraukan kata-kata
Krishna. Ia terus bertarung melawan
Jayadrata. Krishna terus mengawasi
pertarungan Satyaki dengan Bhurisrawa.
Dilihatnya putra Somadatta mengangkat
Satyaki yang sudah lemas dan
membantingnya keras-keras ke tanah.
Cucu Sini itu langsung terkapar tak
sadarkan diri. Bhurisrawa lalu
menyeretnya, bagai singa menyeret
mangsanya ke sarangnya.
“Satyaki sudah tak berdaya ketika diseret
Bhurisrawa. Ia putra terbaik bangsa Wrisni
yang masuk ke medan Kurukshetra untuk
membantumu melawan Kaurawa. Didepan
matamu dia akan dibunuh tetapi engkau
tidak berbuat apa-apa,” kata Krishna lagi.
Arjuna bimbang, pikirannya bercabang.
Katanya, “Bhurisrawa datang ke medan
perang ini bukan karena tantanganku dan
sebaliknya ia juga tidak menantang aku.
Bagaimana aku bisa memanah dia
sementara aku masih sibuk bertempur
dengan musuhku? Aku bimbang. Pikiranku
tidak mengijinkan aku berbuat demikian,
padahal teman sejatiku yang datang untuk
membantuku hendak dibunuh di depan
mataku.”
Lama Arjuna ragu-ragu, tak tahu apa yang
harus diperbuatnya. Ribuan anak panah
berlesatan di angkasa, dilepaskan dari
busur Jayadrata.Arjuna terpaksa melayani
serangan itu. Krishna terus mendesak
Arjuna agar menolong Satyaki yang tak
sadarkan diri sementara Bhurisrawa siap
mengayunkan pedangnya untuk menebas
lehernya. Ketika Arjuna menoleh
kebelakang, dilihatnya Bhurisrawa berdiri
di atas tubuh Satyaki sambil mengangkat
pedangnya tinggi-tinggi. Sesaat kemudian
kesatria itu mengayunkan pedangnya ke
arah leher Satyaki.
Secepat kilat Arjuna melepaskan anak
panahnya. Anak panah itu melesat cepat,
menyambar dan memotong tangan
Bhurisrawa. Kesatria itu jatuh terpelanting
ke tanah sambil memegangi pedangnya.
Bhurisrawa menoleh ke arah Arjuna.
“Ah, anak Dewi Kunti,” katanya. “ Aku tidak
mengira serangan ini datangnya dari
engkau. Menyerang dari belakang tidak
sesuai dengan watak kesatria. Aku datang
untuk bertarung melawan seseorang.
Muka dengan muka. Berhadapan. Tapi
engkau menyerangku dengan licik dari
belakang. Benarlah kata sang bijak:
sesungguhnya tak seorang pun dapat
menahan pengaruh iblis dalam dirinya,
tidak juga engkau yang sebenarnya patut
dihormati.
“Dhananjaya, jika nanti kau kembali ke
tempat saudaramu, Yudhistira, bagaimana
engkau akan menceritakan perbuatanmu
ini? Hai Arjuna, siapa yang mengajarkan
kelicikan itu kepadamu? Apakah Batara
Indra, Mahaguru Drona atau Kripa? Tata
krama apa yang mengijinkanmu
menyerang seseorang dari belakang?
Engkau bertindak seperti keturunan orang
hina. Perbuatan nistamu telah mengotori
kehormatanmu. Perbuatanmu ini pasti
dipengaruhi oleh Krishna.
“Aku tahu, ini bukan sifatmu. Ini pasti
karena kau terpengaruh oleh Krishna.
Ingatlah, tak seorang kesatria pun akan
merendahkan diri dengan melakukan
tindakan tercela itu.”
Demikian Bhurisrawa mengutuk Arjuna
dan Krishna.
Partha menjawab,
“Wahai Bhurisrawa, engkau telah uzur, usia
tua membuat penilaianmu berkarat.
Ketahuilah, tidak mungkin aku diam saja,
jika dihadapanku kawan yang hendak
menolongku terancam jiwanya. Kawanku
hendak kau sembelih, padahal ia dalam
keadaan tak sadarkan diri. Lebih baik aku
masuk neraka jika tidak bisa menghalangi
perbuatanmu.
“Engkau katakan pikiranku telah dirusak
Krishna. Tetapi tuduhanmu itu kau
ucapkan dengan pikiran kacau. Satyaki
datang ke mari tanpa membawa senjata
dan dalam keadaan lelah. Ia berniat
membantuku, tetapi kau malah
menantangnya.
“Setelah ia kau tundukkan sampai tak
sadarkan diri, dengan keji kau berniat
menebas lehernya. Watak kesatria seperti
apa yang mengijinkan kamu menginjak-
injak tubuh orang yang tak sadarkan diri?
Tidakkah kau ingat bagaimana prajurit
Kaurawa bersorak-sorak dan menari-nari
seperti iblis mengeroyok anakku,
Abhimanyu yang sudah tidak berdaya dan
tanpa senjata?
“Wahai kesatria besar, ketahuilah, aku telah
bersumpah untuk melindungi semua
temanku dalam jarak sebidikan anak
panahku. Takkan kubiarkan ia terbunuh di
tangan musuh. Itulah sumpah suciku.
Sekarang renungkan perbuatanmu
terhadap Satyaki. Bagaimana mungkin
engkau menyalahkan perbuatanku? Kau
melancarkan kutukan tanpa pengertian
yang benar dan tepat.”
Mendengar kata-kata Arjuna, Bhurisrawa
terdiam. Kemudian ia bangkit dan
meletakkan anak panahnya dekat kakinya.
Lalu ia duduk di atas anak panah itu,
seolah-olah duduk ditikar dengan kaki
bersila. Kesatria tua itu bersamadi dan
melakukan yoga. Melihat tindakan
Bhurisrawa, pasukan Kaurawa bersorak
memujinya dan mengejek Arjuna dengan
kata-kata pedas.
Arjuna berkata lagi kepada Bhurisrawa,
dengan cukup keras agar bisa didengar
oleh mereka yang ada di sekitar situ,
“Engkau kesatria hebat. Engkau membela
siapa pun yang datang meminta
bantuanmu. Engkau seharusnya sadar, apa
yang terjadi sekarang ini adalah akibat
kesalahanmu. Tidak adil dan tidak benar
jika kau menyalahkan aku. Kalau kau mau
jujur, seharusnya kau berani menyalahkan
dan mengutuk kekerasan dan nafsu perang
yang menguasai kehidupan seluruh bangsa
kesatria.”
Bhurisrawa menatap wajah Arjuna, lalu
memberi hormat kepadanya dengan
menundukkan kepala. Pada saat itulah
Satyaki siuman. Ia segera bangkit. Melihat
Bhurisrawa ada di dekatnya, kebencian
dan amarahnya seketika memuncak.
Tanpa menunggu-nunggu, dia mengambil
pedang dari dekat situ lalu secepat kilat
menebaskannya ke leher Bhurisrawa yang
sedang duduk bersila dan bersamadi.
Sebelum Arjuna dan Krishna sempat
merampas pedang Satyaki, kepala
Bhurisrawa telah lebih dulu terguling ke
tanah. Ajaib ! Badannya tetap dalam posisi
beryoga.
Peristiwa itu terjadi begitu cepat. Semua
yang menyaksikan menahan napas dan
mengutuk perbuatan Satyaki yang
kemudian berdiri tegak dan berseru
lantang, “Setelah aku jatuh tak sadarkan
diri, musuh keluargaku ini menginjak-injak
aku dan hendak memancung leherku.
Untuk membalas perbuatannya, aku
berhak membunuh dia dalam keadaan apa
pun. Aku bukan orang yang pantas
dikutuk.
Apa pun anggapan Kaurawa maupun
Pandawa mengenai kematian Abhimanyu
dan Bhurisrawa dalam pertempuran di
Kurukshetra yang dahsyat, namun
pertentangan batin dan konflik moral
sebagai akibat peperangan itu akan
menjadi ukuran bagi nilai-nilai pandangan
hidup manusia di dunia ini untuk di masa
datang. Dari masa ke masa peristiwanya
mungkin sama, tetapi tanggapannya bisa
berbeda.
Ditengah pasukan Kaurawa, Duryodhana
berkata kepada Karna. “Karna, hari telah
sore. Jika malam tiba dan Jayadrata belum
juga terbunuh, Arjuna akan malu besar.
Dia pasti akan bunuh diri karena tak dapat
memenuhi sumpahnya. Kematian Arjuna
berarti kehancuran Pandawa dan seluruh
kerajaan akan kita kuasai. Siapa pun takkan
mengungkit kekuasaan kita. Sumpah
Arjuna tak mungkin terlaksana karena
diucapkan tanpa pertimbangan masak
masak. Arjuna pasti hancur di tangannya
sendiri.
“Rupanya hari ini bintangku terang-
benderang. Kesempatan ini harus kita
gunakan sebaik-baiknya. Segala sesuatu
tergantung padamu. Buktikan
kesanggupanmu hari ini. Lihat, matahari
hampir terbenam dan hari hampir malam.
Aku yakin, Arjuna takkan bisa mencapai
Jayadrata. Engkau, Aswatthama, Salya,
Kripa dan aku harus menjaga Jayadrata
sekuat tenaga agar ia tidak jatuh ke tangan
Arjuna. Kita harus terus menjaganya
sampai beberapa saat sesudah matahari
tenggelam.”
“Tuanku Raja, hari ini aku sangat lelah.
Badanku penuh luka setelah bertempur
melawan Bhimasena. Tetapi kalau kau
kehendaki, nyawaku akan kuserahkan
kepadamu,” jawab Karna.
Sementara itu, Arjuna terus menerjang
pasukan Kaurawa yang diperintahkan
untuk menghalanginya agar kesatria
Pandawa itu tidak bisa mendekati
Jayadrata. Pada saat itu Krishna
mengirimkan isyarat, memanggil kereta
dan sais bernama Daruka untuk diberikan
kepada Satyaki. Daruka adalah sais yang
sangat mahir. Bersama Satyaki ia
ditugaskan untuk bertempur melawan
Karna di medan yang terpisah. Setelah
bertempur beberapa lama, Karna berhasil
dilumpuhkan, keretanya dihancurkan, dan
ia terpaksa melompat naik ke kereta
Duryodhana.
Ketika Satyaki mengamuk lagi melawan
para kesatria Kaurawa,Arjuna makin maju
mendekati Jayadrata. Pikirannya penuh
dengan kenangan akan kematian
Abhimanyu. Tanpa kenal lelah dan tak
peduli pada luka-luka di tubuhnya, Arjuna
terus berperang. Dengan Gandiwanya, ia
membuat pasukan Kaurawa kacau balau.
Arjuna terus maju mendekati Jayadrata.
Pertarungannya dengan Aswatthama dan
lainnya tidak membuatnya semakin jauh
dari tujuannya. Sebaliknya, setelah
mengalahkan musuh-musuhnya, ia
semakin dekat dengan Jayadrata.
Mereka yang bertempur sebentar-sebentar
menoleh ke barat. Pertempuran belum
juga berakhir. Waktu hanya tinggal sedikit .
Tiba-tiba medan Kurukshetra menjadi
gelap dan terdengar teriakan Duryodhana,
“Lihatlah, hari sudah malam ! Arjuna tidak
dapat melaksanakan sumpahnya. Sungguh
memalukan!”
Sementara itu Jayadrata menengadah,
memandang ke barat dengan ragu, sebab
beberapa saat yang lalu langit masih
terang. Katanya dalam hati, “Aku selamat,
aku selamat....”
Pada saat itulah Krishna berkata kepada
Arjuna, “Dhananjaya, lihatlah Raja Sindhu
sedang memandang langit. Aku
mengucapkan mantra agar medan ini
menjadi gelap. Sebetulnya matahari masih
di atas. Cepat, lakukan tugasmu ! Jayadrata
sedang sendirian!”
Maka melesatlah sebatang anak panah
bermata pedang dari Gandiwa Arjuna,
tepat menembus leher Jayadrata. Leher itu
putus.Kepala Jayadrata terbawa terbang
oleh anak panah yang terus meluncur,
bagaikan burung elang menyambar anak
ayam. Sebatang anak panah dilepaskan lagi
oleh Arjuna,untuk menerbangkan kepala
itu ke tempat yang lebih jauh. Dengan
kekuatan yang telah diperhitungkan, anak
panah itu menerbangkan kepala Jayadrata
sampai ke tempat pertapaan
ayahnya.Akhirnya, anak panah itu jatuh
tepat di pangkuan Raja Wridaksatra yang
sedang khusyuk bersamadi.
Ketika raja tua itu selesai bersamadi, ia
bangkit berdiri. Maka tergulinglah kepala
anaknya dari pangkuannya. Akibat kutuk-
pastu yang dilontarkannya dulu, maka
kepala mantan raja itu sendiri yang
meledak, pecah berkeping-keping. Seketika
itu juga ia menemui ajalnya.
Krishna, Dhananjaya, Bhimasena, Satyaki,
Yudhamanyu dan Uttamaujas meniup
trompet kerang mereka sebagai tanda
bahwa Arjuna berhasil melaksanakan
sumpahnya. Medan Kurukshetra sesaat
menjadi terang kembali karena memang
demikianlah keadaannya yang
sesungguhnya. Beberapa waktu kemudian,
matahari tenggelam sebagaimana biasa.
Pertempuran di medan Kurukshetra makin
hari makin bertambah sengit. Aturan-
aturan perang sudah ditinggalkan,
dilanggar, dan tak dihiraukan lagi. Kedua
pihak merasa bahwa pertempuran di siang
hari saja tidak cukup. Maka perang
diteruskan sampai malam.Demikianlah,
ketika matahari sudah terbenam dan
malam telah turun, kedua pihak masih
terus bertempur diterangi obor.
Dua kesatria muda paling terkenal yang
menjadi pujaan di medan Kurukshetra
adalah Abhimanyu dan Gatotkaca. Mereka
dipuja dan disayang Pandawa karena
berjiwa besar, berwatak kesatria,
pemberani dan sakti mandraguna.
Setelah Abhimanyu gugur, tinggal
Gatotkaca yang menjadi tumpahan kasih
sayang Pandawa. Putra Bhima yang beribu
Arimbi dan berdarah raksasa itu dengan
pasukan raksasanya memberikan bantuan
penting bagi Pandawa, lebih-lebih setelah
pertempuran diteruskan sampai malam.
Pasukan raksasa yang dipimpinnya lebih
tangkas dan lebih mahir bertempur di
kegelapan malam.
Ia menyerang pasukan musuh dengan
para raksasa yang garang-garang. Beribu-
ribu balatentara Kaurawa dibunuh oleh
para raksasa itu. Duryodhana cemas dan
putus harapan karena tak terbilang
banyaknya prajuritnya yang mati.
Pertempuran di malam hari ternyata jauh
lebih mengerikan daripada di siang hari.
“Karna, bunuhlah Gatotkaca. Kalau tidak,
dalam waktu singkat seluruh balatentara
kita akan habis. Bunuh Gatotkaca !
Sekarang juga !” kata Duryodhana
mendesak Karna.
Walaupun badannya masih letih karena
bertempur sepanjang hari, Karna merasa
ngeri melihat Gatotkaca dan pasukan
raksasanya mengamuk di malam hari.
Hatinya panas membayangkan
kemusnahan yang diakibatkan amukan
Gatotkaca. Kemarahannya membuat
hatinya serasa ditusuk-tusuk, hingga ia
memutuskan untuk menumpas habis
pasukan raksasa yang dipimpin Gatotkaca.
Ia ingat tombak hadiah dari Batara Indra
yang semula akan digunakannya untuk
membunuh Arjuna.
Kemudian Karna bangkit, menerjang ke
depan, dan menghadapi kesatria Pandawa
berketurunan raksasa itu. Sungguh
menyeramkan pergumulan mereka. Mula-
mula Karna hanya bertahan, tetapi tiba-
tiba ia mengerahkan tenaganya untuk
menyerang. Sesaat Gatotkaca lengah dan
Karna berhasil menusuk dadanya dengan
tombak sakti pemberian Batara Indra.
Bagai gunung meletus Gatotkaca langsung
roboh membentur tanah, mati seketika.
Setelah kematian Jayadrata ditangan
Arjuna, pertempuran seharusnya
dihentikan untuk sementara karena senja
telah tiba. Namun Gatotkaca menghadang
pasukan Korawa kembali ke perkemahan
mereka.
Pertempuran pun berlanjut. Semakin
malam kesaktian Gatotkaca semakin
meningkat. Prajurit Korawa semakin
berkurang jumlahnya karena banyak yang
mati di tangannya. Seorang sekutu Korawa
dari bangsa rakshasa bernama Alambusa
maju menghadapinya. Gatotkaca
menghajarnya dengan kejam karena
Alambusa telah membunuh sepupunya,
yaitu Irawan putra Arjuna pada
pertempuran hari kedelapan. Tubuh
Alambusa ditangkap dan dibawa terbang
tinggi, kemudian dibanting ke tanah
sampai hancur berantakan.
Duryodana pemimpin Korawa merasa
ngeri melihat keganasan Gatotkaca. Ia
memaksa Karna menggunakan senjata
pusaka Indrastra pemberian Dewa Indra
yang bernama Indrastra anak panah
kahyangan yang diberikan oleh Indra
kepadanya (sebelum perang dimulai
dengan pertukaran dengan kavacha dan
antingnya) untuk membunuh rakshasa itu.
Semula Karna menolak karena pusaka
tersebut hanya bisa digunakan sekali saja
dan akan dipergunakannya untuk
membunuh Arjuna. Namun karena terus
didesak, Karna terpaksa melemparkan
pusakanya menembus dada Gatotkaca.
Menyadari ajalnya sudah dekat, Gatotkaca
masih sempat berpikir bagaimana caranya
untuk membunuh prajurit Kurawa dalam
jumlah besar. Maka Gatotkaca pun
memperbesar ukuran tubuhnya sampai
ukuran maksimal dan kemudian roboh
menimpa ribuan prajurit Korawa.
Pandawa sangat terpukul dengan gugurnya
Gatotkaca.
Dalam barisan Pandawa hanya Kresna
yang tersenyum melihat kematian
Gatotkaca. Ia gembira karena Karna telah
kehilangan pusaka andalannya sehingga
nyawa Arjuna dapat dikatakan relatif
aman.
Gatotkaca gugur di malam hari ke empat
belas.
Bersambung..

Posted: Dec 31, 1969 (05:00:00 PM)
.MAHABARATA EPS 66 ~arsdark~
“Brahmana yang kuhormati, sebetulnya
kemarin Yudhistira bisa kau tangkap jika
kau memang menghendakinya. Tidak
seorang pun dapat menghalangimu. Tetapi
engkau tidak melaksanakan rencanamu
dan membiarkan kesempatan terbaik
berlalu begitu saja. Aku tidak mengerti
mengapa kau tidak bisa melaksanakan
janjimu. Benarlah kata orang, orang-orang
besar memang sulit dimengerti,” demikian
kata Duryodhana kepada Mahasenapati
Drona di pagi hari ketiga belas.
“Putra Mahkota Duryodhana, aku telah
berusaha dengan segala kekuatan dan
kemampuanku. Rupanya engkau hanya
menuruti pikiranmu yang tidak wajar
sebagai raja. Engkau sebenarnya tahu,
selama Arjuna masih hidup, kita takkan
bisa menculik Yudhistira. Sejak semula hal
ini sudah kujelaskan padamu. Hanya ada
satu cara untuk memisahkan mereka, yaitu
memaksa mereka bertempur di medan
yang berbeda. Kita sudah mencoba cara
itu, tapi gagal. Hari ini kita coba lagi.
Janganlah engkau cepat patah semangat,”
kata Mahaguru Drona sambil menahan
amarahnya.
Pada hari ketiga belas, Arjuna ditantang
lagi dengan sumpah Samsaptaka di ujung
selatan medan pertempuran. Sesuai
rencana, Drona mengatur serangannya ke
induk pasukan Pandawa dengan formasi
kembang teratai. Dalam induk pasukan
Pandawa ada Yudhistira, Dristadyumna,
Bhimasena, Satyaki, Drupada, Chekitana,
Gatotkaca.
Prajurit Trigartas, yang dipimpin oleh Raja
mereka Susarman, telah bersumpah untuk
baik membunuh Arjuna atau mati dalam
usaha itu. Setelah bersumpah, mereka
melakukan upacara pemakaman mereka
sendiri, karena mereka juga tahu bahwa
kesempatan mereka untuk menang sangat
kecil, dan kematian yang hampir kepastian.
Kuntiboja, Yudhamanyu,
Srikandi,Uttamaujas, Wirata, Raja Kekaya,
Raja Srinaya dan para kesatria lainnya
semua lengkap dikawal anak buah masing-
masing.
Yudhistira mengerti betul formasi pasukan
Drona. Dipanggilnya Abhimanyu,
kemenakannya yang masih muda dan
tampan. Seperti Arjuna, ayahnya,
Abhimanyu amat mahir menggunakan
bermacam-macam senjata.
“Anakku, Mahaguru Drona hari ini akan
menyerang kita secara besar-besaran.
Ayahmu telah berangkat ke medan
pertempuran di selatan. Kalau dia tak ada,
kita bisa dikalahkan musuh dan itu akan
menjadi malapetaka besar bagi kita. Tidak
seorang pun di antara kita yang akan
mampu menembus formasi Drona, kecuali
ayahmu dan mungkin engkau. Paman
berharap, engkau bersedia melakukan
tugas ini,” kata Yudhistira kepada
Abhimanyu.
“Ya, Paman, aku bersedia melakukannya.
Ayah pernah mengajarkan cara menembus
formasi seperti itu, tetapi aku belum
pernah mempelajari cara keluarnya,”
jawab kesatria muda itu.
“Anakku yang gagah berani, tembuslah
formasi yang kokoh itu dan buatlah jalan
masuk agar kami dapat mengikutimu dari
belakang. Selanjutnya, kami semua akan
membantumu,” tambah Yudhistira.
Pendapat Dharmaputra didukung
Bhimasena, yang harus segera menyusul
kemenakannya jika Abhimanyu telah
berhasil masuk ke dalam formasi kembang
teratai itu. Di belakang Bhimasena akan
menyusul Dristadyumna, Satyaki, Raja
Panchala, Raja Kekaya, dan pasukan
Kerajaan Matsyadesa.
Ingat akan ajaran ayahnya dan Krishna
serta meresapkan dorongan semangat dari
paman-pamannya, Abhimanyu berkata,
“Baiklah, aku akan memenuhi harapan
ayahku dan pamanku. Kupertaruhkan
keberanian dan nyawaku demi
kemenangan Pandawa.”
Yudhistira memberi restu kepada kesatria
muda itu. Dengan kereta kesayangannya
yang dikemudikan Sumitra, Abhimanyu
berangkat melakukan tugas suci yang
dipercayakan kepadanya oleh pamannya.
Kereta yang ditarik empat ekor kuda gagah
itu segera meluncur menembus jantung
formasi kembang teratai, bagaikan seekor
singa membelah gerombolan gajah
perkasa.
Kedatangan Abhimanyu di tengah-tengah
kekuatan Kaurawa membuat sebagian
prajurit Kaurawa cemas. Mereka tahu
benar, kesatria muda itu hampir sama
sakti dan mahirnya dengan ayahnya,
Arjuna. Ketika Abhimanyu maju dengan
perkasa, pasukan Kaurawa mundur dan
terbelah dua.
Jayadrata , raja Negeri Sindhu,yang
memihak Kaurawa adalah seorang ahli
siasat dan taktik pertempuran yang
disegani lawan maupun kawan. Ia
memotong belahan yang dibuat
Abhimanyu, membuat kesatria muda itu
terperangkap. Bhimasena dan yang lain
tercegat, tak bisa menyusul Abhimanyu
dan harus berhadapan dengan pasukan
yang dipimpin oleh Jayadrata.
Kendati demikian, Abhimanyu terus maju
menyerang musuh yang beribu-ribu
jumlahnya. Ia menyerang ke kanan dan ke
kiri,tidak peduli siapa pun yang
dihadapinya. Tidak terhitung banyaknya
korban di pihak Kaurawa yang jatuh bagai
pohon-pohon bertumbangan diamuk
angin topan. Tombak, gada, pedang, busur,
anak panah dan bola-bola besi berserakan
di mana-mana. Mayat-mayat
bergelimpangan. Ada yang tanpa kepala,
tanpa kaki, tanpa lengan; ada yang
badannya terbelah. Sungguh
pemandangan yang sangat mengerikan.
Melihat ini, Duryodhana merasa perlu
untuk maju menghadapi Abhimanyu.
Mahaguru Drona yang tahu benar
kekuatan, keberanian dan tekad
Abhimanyu, terpaksa mengirimkan bala
bantuan untuk mengawal Duryodhana
agar pangeran Kaurawa itu tidak tewas di
tangan Abhimanyu. Duryodhana nyaris
tewas , tetapi sempat diselamatkan oleh
para pengawalnya.
Akhirnya, tanpa malu atau segan, para
senapati Kaurawa melanggar semua aturan
perang. Beramai-ramai mereka
mengeroyok putra Arjuna, dari segala
penjuru dan dengan segala macam cara.
Drona, Aswatthama, Kripa, Karna, Sakuni,
Duhsasana dan para kesatria besar yang
patut dihormati, tanpa malu atau tanpa
ragu menyerang Abhimanyu yang
sendirian tanpa pasukan dan tanpa bala
bantuan ditengah ribuan musuhnya.
Abhimanyu bagaikan perahu kecil yang tak
berdaya digulung gelombang yang susul-
menyusul di lautan maha luas ketika badai
topan mengamuk dengan dahsyatnya.
Tetapi dengan penuh tekad Abhimanyu
terus memberikan perlawanan, bagai
perahu yang terus maju memecah ombak
dan melawan angin.
Asmaka menyerang Abhimanyu dengan
menabrakkan keretanya yang dipacu
sekencang angin. Tetapi Abhimanyu
menghadapinya sambil tersenyum.
Pertarungan yang tak seimbang antara
seorang kesatria muda yang belum
berpengalaman melawan puluhan kesatria
sakti yang sudah berpengalaman membuat
orang iba kepada Abhimanyu. Ia berhasil
menghancurkan senjata Karna dan
menyerang Salya hingga kedua kesatria
yang sudah tidak muda lagi itu terluka
parah. Saudara Salya membalas dengan
menggempur Abhimanyu, tetapi ia juga
dapat dikalahkan. Abhimanyu
menghancurkan keretanya.
Drona terharu menyaksikan Abhimanyu
bertempur dengan gagah berani. Ia
berkata kepada Kripa, “Adakah yang bisa
menandingi keberanian Abhimanyu?
Sungguh ia pemuda yang perkasa dan
berani!”
Duryodhana, yang kebetulan berdiri di
dekat Kripa, tersinggung mendengar kata-
kata Drona. Ia memang cepat naik darah.
“Guru selalu memihak Arjuna. Guru tidak
mau membunuh Abhimanyu,” kata
Duryodhana dengan curiga, seperti ketika
mencurigai Bhisma.
Memang, sejak kecil Duryodhana sudah
berwatak buruk. Segala perbuatannya
mendorongnya untuk menambah
kesalahan dan dosanya. Kelak ia akan
memetik karmaphala atas perbuatannya
sendiri.
Duhsasana malu, tetapi juga benci dan iri
melihat keberanian Abhimanyu. Sambil
berteriak lantang ia menantang
Abhimanyu, “Hai anak muda, engkau pasti
mampus di tanganku,”
Begitu selesai mengucapkan tantangannya,
ia segera menyerbu. Serangannya dihadapi
Abhimanyu dengan mantap. Beberapa saat
kemudian, Abhimanyu dapat menaklukkan
Duhsasana . Untuk terakhir kalinya,
Abhimanyu melontarkan bola besi, tepat
mengenai kepala Duhsasana. Kesatria
Kaurawa itu jatuh terkapar didalam
keretanya, tidak sadarkan diri. Untunglah,
saisnya secepat kilat membawanya lari
mundur untuk diselamatkan.
Sementara itu induk pasukan Pandawa
tidak bisa lagi menyusul Abhimanyu
karena dihalang-halangi pasukan yang
dipimpin Jayadrata, menantu Dritarastra.
Jayadrata menyerang Yudhistira.
Dharmaputra melemparkan tombaknya,
tepat mengenai busur Raja Sindhu itu.
Tetapi, dengan busur baru Jayadrata
memanah Dharmaputra, tepat mengenai
keretanya. Bhimasena membantu
Yudhistira dengan memanah kereta
Jayadrata, tepat mengenai payung
kebesaran dan panji-panjinya. Jayadrata
membalas dengan melesatkan empat anak
panah sekaligus. Keempat kuda Bhimasena
tewas seketika. Bhima terpaksa melompat
ke kereta Satyaki.
Bagaikan banjir bandang melanda dusun,
sawah, dan ladang, Abhimanyu terus maju
menerjang. Tak terbilang banyaknya
korban berjatuhan ditangan kesatria muda
unggulan Pandawa itu. Putra Duryodhana,
Laksamana , yang juga masih muda dan
gagah berani, maju menghadapi
Abhimanyu. Putra Dewi Subadra dan
Arjuna itu menyambut Laksmana dengan
lontaran bola besi yang berkilauan. Bola
besi itu melesat cepat, tepat menembus
dada cucu Dritarastra. Kesatria itu
terpelanting jatuh, tewas seketika. Kaurawa
sedih kehilangan Laksmana, putra
Duryodhana, junjungan mereka.
Mendengar kabar kematian putranya,
Duryodhana mengamuk. Ia berteriak
lantang, mengancam Abhimanyu, “Hai
Abhimanyu! Berani benar kau membunuh
putra kesayanganku. Terimalah
pembalasanku!”
Ia segera memerintahkan keenam kesatria
Kaurawa yang telah berpengalaman, yaitu
Drona, Kripa, Karna, Aswatthama,
Brihatbala dan Kritawarma untuk
mengepung putra Arjuna itu dari belakang,
depan, samping kanan dan samping kiri.
“Tidak mungkin menundukkan pemuda ini
tanpa melumpuhkan keretanya lebih
dahulu,” teriak Drona. Ia menyuruh Karna
membidik tali kekang dan keempat kuda
Abhimanyu sebelum menyerang kesatria
itu.
Tanpa malu para kesatria Kaurawa
melanggar aturan perang dan menyerang
Abhimanyu dari segala arah. Panah Karna
memutus tali kekang hingga keempat kuda
penarik kereta itu tak terkendali.
Kemudian, Karna menyerang Sumitra, sais
kereta, dan keempat kuda itu. Sumitra dan
keempat kuda itu mati seketika. Tetapi,
Abhimanyu terus maju melawan musuh-
musuhnya dengan pedangnya! Semua
lawannya kagum dan dalam hati merasa
malu melihat ketangkasan dan keberanian
kesatria muda itu. Drona menebas pedang
Abhimanyu hingga patah berkeping-
keping, sementara Karna menghancurkan
perisainya dengan bidikan anak panah.
Abhimanyu terus melawan. Diambilnya
roda keretanya yang sudah berantakan
dan digunakannya sebagai senjata cakra.
Diayun-ayunkannya roda itu dan
ditumbukkannya pada siapa saja yang
berani mendekatinya.
Dalam keadaan demikian, Abhimanyu
serentak diserbu dengan berbagai macam
senjata,seperti tombak, gada, busur,
panah, perisai, lembing, pedang, dan
sebagainya. Roda kereta yang
digunakannya sebagai cakra hancur
berantakan. Tetapi Abhimanyu terus
melawan. Ia menerjang salah satu putra
Duhsasana lalu bergumul dengan hebat.
Tetapi... seberapakah kekuatan seseorang
tanpa senjata tanpa pengawal dan
dikeroyok oleh beratus-ratus musuh?
Dengan kekuatan yang tersisa di raganya,
Abhimanyu masih dapat menarik kaki
lawannya hingga mereka jatuh bersama ke
tanah.
Begitu Abhimanyu jatuh, para Kaurawa
segera menghabisinya. Ada yang
menombak, ada yang memanah, ada yang
menusuk-nusuk dengan lembing, ada yang
memukul dengan gada, ada yang
mencongkel-congkel dengan busur.
Pendek kata, semua siksaan kejam
terkutuk itu ditimpakan ke tubuh
Abhimanyu yang sudah penuh luka. Semua
itu dilakukan Kaurawa sambil bersorak-
sorak. Seperti setan dan iblis, mereka
menari-nari mengelilingi jasad Abhimanyu
yang sudah tidak berbentuk.
Yuyutsu salah satu putra Dritarastra yang
ikut mengeroyok Abhimanyu merasa
sangat kecewa dan marah melihat
perbuatan para senapati Kaurawa.
“Cara kalian membunuh Abhimanyu
sungguh sangat tercela! Tuan-Tuan adalah
kesatria besar. Apakah Tuan-
Tuan telah melupakan etika dan moral
dalam berperang? Seharusnya Tuan-Tuan
malu karena perbuatan keji ini. Sungguh
tak pantas berteriak-teriak dan menari-nari
di atas mayat musuh yang Tuan-Tuan
bunuh secara jahat dan keji. Apakah pantas
perbuatan Tuan-Tuan itu? Sekarang Tuan-
Tuan bisa bergembira, tetapi kelak Tuan-
Tuan pasti memetik hasil ‘kemenangan’
Tuan-Tuan yang kejam.”
Setelah berkata demikian, dengan muak
Yuyutsu melemparkan semua senjatanya
lalu meninggalkan medan Kurukshetra
untuk selama-lamanya. Ia tidak takut mati
di medan pertempuran, tetapi ia muak
melihat perbuatan keji seperti yang
dilakukan oleh para senapati Kaurawa itu.
Ia tahu benar bahwa perbuatan seperti itu
bukan perbuatan kesatria sejati. Ia
menyindir para senapati Kaurawa dengan
kata-kata tajam. Mungkin mereka
menganggap Yuyutsu pengkhianat, tetapi
sebenarnya,dialah yang memiliki iktikad
baik dan jujur, sesuai dengan hati
nuraninya sebagai kesatria.
“Yang jahat akan tetap jahat, yang keji tetap
harus dihukum, yang berbuat sesuatu
tetap harus memetik buahnya.”
Berita kematian Abhimanyu sampai ke
telinga Yudhistira. Alangkah sedih hatinya
menerima berita itu, lebih-lebih ketika ia
tahu bahwa kemenakannya itu gugur
karena diperlakukan secara teramat kejam.
Penyesalannya semakin memuncak karena
dialah yang menyuruh Abhimanyu
menggantikan ayahnya.
“Abhimanyu telah tiada. Dalam
pertempuran ia dapat mengalahkan
Drona, Aswatthama, Duryodhana dan
lainnya. Serangannya bagaikan api yang
berkobar membakar hutan kering.
“Oh, kesatria muda, engkau yang membuat
Duhsasana lari seperti pengecut kini telah
tiada. Apa gunanya aku berperang?
Menang pun takkan membuatku senang.
Apa gunanya aku menginginkan kerajaan?
Kata-kata apakah yang bisa kusampaikan
kepada ayahmu untuk mengabarkan
kematianmu? Apa pula yang harus
kukatakan kepada Dewi Subadra? Dia pasti
akan sedih, seperti induk lembu kehilangan
anaknya. Bagaimana aku dapat
mengucapkan kata-kata penghiburan
untuk menghapus duka mereka?
“Benarlah nafsu serakah dapat
menghancurkan iktikad baik manusia.
Seperti si pandir hendak mencari madu
dan jatuh ke dalam jurang. Aku
memimpikan kemenangan dengan
menyuruh kemenakanku maju ke medan
pertempuran. Padahal, masa depan
terbentang luas baginya. Tak ada orang
setolol aku di dunia ini. Aku telah
menyebabkan terbunuhnya putra
kesayangan Arjuna, yang semestinya aku
lindungi selama ayahnya tidak ada.”
Demikian Dharmaputra berucap sambil
berurai air mata. Ia dikelilingi para
penasihat dan sahabatnya yang tunduk
terdiam diliputi rasa duka.
Dalam situasi demikian, datang Bagawan
Wyasa. Kedatangannya sungguh sangat
diharapkan. Setelah mempersilakan resi
agung itu duduk, Yudhistira
mengungkapkan perasaannya, “Bapa Resi
yang kuhormati, aku telah berusaha keras
untuk memperoleh ketenangan jiwa, tetapi
aku tidak sanggup mencapainya.”
“Engkau orang bijaksana. Sebenarnya
engkau tahu cara memperolehnya. Tidak
pantas engkau biarkan dirimu dirundung
duka terus-menerus. Engkau tahu apa
artinya kematian.
“Dengar, ketika Brahma menciptakan
makhluk hidup, Dia diliputi rasa cemas.
Jiwa makhluk ini berkembang dengan
pesat dan pada suatu ketika jumlah
mereka menjadi terlalu banyak untuk
dipikul dunia ini. Agaknya tidak ada jalan
lain untuk mengatasi kesulitan ini. Pikiran
Brahma yang diliputi rasa cemas menjelma
menjadi nyala api, makin lama makin
besar, menjadi api raksasa yang
memusnahkan segala makhluk
ciptaanNya. Tetapi syukurlah, Rudra segera
datang dan memohon kepada Brahma
agar menenangkan api yang membawa
kemusnahan itu. Brahma memperhatikan
permohonan Rudra, lalu mengendalikan
api yang mengerikan itu dan menggantinya
dengan suatu hukum yang kemudian
dikenal sebagai “kematian”. Hukum
Brahma, Pencipta Alam Semesta,
dijelmakan olehNya dalam berbagai
bentuk, misalnya perang, wabah, banjir,
gempa bumi, gunung meletus, dan
sebagainya, demi menjaga keseimbangan
antara kelahiran dan kematian. Kematian
adalah hukum yang tidak bisa dihindari
dan merupakan bagian dari hidup.
Keduanya harus berimbang, seperti
dititahkan demi kebaikan dunia.
“Tak pantaslah bersedih hati berlebihan,
menangisi mereka yang sudah mati. Tidak
ada alasan untuk menyayangkan mereka
yang berpulang ke rahmat Hyang Tunggal.
Ada lebih banyak alasan untuk bersedih
bagi mereka yang masih hidup.”
Demikian Bagawan Wyasa dengan penuh
kasih seorang resi yang agung
menenangkan hati dan pikiran Yudhistira.
Sementara itu, Arjuna dan Krishna sedang
dalam perjalanan kembali dari
pertempuran di selatan.
Arjuna berkata, “Krishna, aku tidak tahu
kenapa pikiranku kacau. Mulutku terasa
kering dan hatiku berdebar debar. Aku
merasa sesuatu yang buruk telah terjadi.
Aku mencemaskan keselamatan
Yudhistira,” kata Arjuna memecah
kesunyian.
“Janganlah engkau risaukan keselamatan
Yudhistira. Dia dan saudara-saudaramu
pasti selamat,” jawab Krishna.
Di tengah perjalanan mereka berhenti
untuk melakukan puja sandikala, berdoa
disaat pergantian siang menjadi malam.
Kemudian meneruskan perjalanan mereka.
Setelah dekat ke perkemahan, mereka
turun dari kereta lalu berjalan kaki. Arjuna
semakin gundah. Lebih-lebih karena ia
tidak mendengar bunyi alat musik ditabuh
dan suara orang menyanyi.
“Janardana, kenapa kita tidak mendengar
bunyi alat musik dan suara orang-orang
menyanyi seperti biasa? Lihat, lihat ... para
prajurit itu menundukkan kepala. Mengapa
mereka menyambut kedatangan kita
dengan cara seperti itu? Ini aneh sekali.
“Wahai Krishna, aku cemas. Apakah engkau
masih berpikir saudara-saudaraku semua
selamat? Aku bingung. Abhimanyu dan
anak-anakku yang lain tidak menyambutku
seperti biasa,” kata Arjuna makin cemas.
Ketika masuk ke dalam kemah Yudhistira,
mereka melihat wajah-wajah tertunduk
muram. Arjuna tidak dapat lagi menahan
diri untuk tidak bertanya. Katanya, “Kenapa
kalian semua berwajah muram? Aku tidak
melihat Abhimanyu. Kenapa aku tidak
melihat wajah-wajah riang menyambut
kemenanganku? Aku dengar Drona
menyerang kita dengan pasukan yang
ditata dalam formasi kembang teratai.
Tidak seorang pun di antara kalian yang
dapat menembus formasi seperti itu.
Apakah Abhimanyu memaksa diri untuk
maju ke depan? Kalau begitu, ia pasti
tewas, sebab aku belum pernah
mengajarkan padanya bagaimana caranya
keluar dari formasi seperti itu. Oh, ia pasti
tewas terbunuh!”
Karena mereka tidak ada yang menjawab
dan semua semakin tunduk tak berani
menatap matanya, maka yakinlah Arjuna
bahwa Abhimanyu telah tewas. Hatinya
serasa dihantam godam, remuk redam. Air
matanya bercucuran. Dengan terputus-
putus ia berkata, “Ya Hyang Widhi, anakku
tercinta telah menjadi tamu Batara Yama.
Yudhistira, Bhimasena, Dristadyumna dan
Satyaki, apakah kalian biarkan anak
Subadra tewas ditangan musuh? Ya Hyang
Tunggal, apa yang harus kukatakan kepada
Subadra untuk menghibur hatinya? Apa
yang harus kukatakan kepada Draupadi?
Apa yang harus kusampaikan kepada Uttari
untuk menghibur hatinya? Siapakah yang
sanggup menyampaikan kabar ini kepada
mereka?”
“Arjuna yang kucintai,” kata Krishna
dengan penuh iba. “Jangan biarkan hatimu
lama berduka. Terlahir sebagai kesatria,
pantaslah kita mati di ujung senjata.
Kematian adalah teman bagi kita yang
telah bertekad mengangkat senjata dan
pergi berperang. Dengan penuh keyakinan,
kita takkan mundur setapak pun. Kesatria
sejati harus bersedia mati muda!
“Abhimanyu, sebagai kesatria muda, telah
mencapai tempat yang layak di hadapan
Hyang Tunggal. Ia telah mencapai apa yang
selalu diidam-idamkan para kesatria tua di
medan perang: gugur sebagai pahlawan.
Dan memang demikianlah kematian yang
layak baginya, seperti tertulis dalam kitab-
kitab suci.
“Kalau kau biarkan hatimu terus berduka
berlebihan, saudara-saudara dan sekutu-
sekutumu akan ikut sedih. Mereka bisa
patah semangat dan kehilangan pegangan.
Singkirkan dukamu dan coba tanamkan
kepercayaan dan keberanian lagi di hati
mereka.”
Arjuna yang masih berduka hanya ingin
mendengarkan kisah kematian anaknya.
Akhirnya Yudhistira menceritakan
peristiwa itu, mulai dari saat Abhimanyu
menerima perintahnya untuk menembus
formasi pasukan Kaurawa hingga gugurnya
kesatria muda itu karena dikeroyok oleh
musuh dan diperlakukan dengan
kekejaman di luar batas.
“Memang aku yang menyuruhnya maju
menembus formasi pasukan musuh. Kami
berharap bisa menyusulnya dari belakang.
Aku yakin, kecuali kau, hanya Abhimanyu,
dialah satu-satunya yang bisa
melakukannya. Ia memang berhasil
menembus formasi pasukan musuh dan
kami menyusulnya seperti rencana
semula. Tetapi tiba-tiba Jayadrata dan
ribuan pasukannya datang. Mereka
menutup jalan yang sudah dibuka oleh
Abhimanyu. Kami gugup, tak siap, dan
kalah dalam jumlah. Sungguh memalukan,
kami tidak bisa menolong Abhimanyu
hingga putramu itu tewas dibunuh secara
keji.”
Setelah mendengar kisah kematian
anaknya, Arjuna bersumpah, “Besok,
sebelum matahari terbenam, aku akan
bunuh Jayadrata yang menyebabkan
kematian anakku. Jika Drona dan Kripa
menghalangiku, akan kubunuh kedua
Mahaguru itu.”
Setelah mengucapkan sumpahnya, Arjuna
melepaskan anak panah Gandiwa. Segera
setelah itu, Krishna meniup trompet
kerang Panchajaya dan Bhimasena
berkata, “Lepasnya anak panah dari
Gandiwa Arjuna dan tiupan trompet
Panchajaya Krishna berarti kematian bagi
semua anak Dritarastra.”
Bersambung..

Mohon yg sudah baca bantu klik bagikan biar FP ini makin Rame.... :) matur nuwun sdoyo mawon

Posted: Dec 31, 1969 (05:00:00 PM)
" Hubungan asmara yg indah tidak memerlukan janji, waktu dan tempat. Yang dibutuhkan hanyalah Dia yang bisa dipercaya, dan Dia yang setia."

Kalau KAMU setia gak ? heehehe..

Posted: Dec 31, 1969 (05:00:00 PM)
apakah sahabat datang dan pergi, lalu terkadang menghianati

Posted: Dec 31, 1969 (05:00:00 PM)
MAHABRATA
Kitab ini terdiri atas 18 jilid (parwan), yang masing-masing terdiri atas beberapa bagian (juga disebut parwan) dan digubah dalam bentuk syair sebanyak 100.000 seloka. Isinya bermacam-
macam, disisi-sisipkan dalam rangkaian cerita pokoknya. Cerita pokok ini meliputi 24.000 seloka, dan sebagian besar menceritakan peperangan sengit selama 18 hari antara para Pabdawa dan Kurawa. Maka nama lengkapnya dari kitab ini ialah Mahabratayuddha yang berarti peperangan besar antara keluarga Bharata.
Berikut ini adalah 18 parawan yang terdapat pada kitab Mahabrata yaitu :
1). Adi-parwan, isinya mengenai asal-usul dan masa kanak-kanak para Pandawa dan Kurawa.
2). Sabha-parwan, isinya mengenai usaha atau strategi Para Kurawa untuk membinasakan para Pandawa. Diantaranya yakni dengan bermai dadu. Dalam permainan dadu tersebut para Kurawa dan Pandawa melakukan taruhan, bagi yang kalah harus mengalami pembuanagan selama 12 tahun ; pada tahun ke-13 boleh kembali ke masyarakat, teapi tidak boleh dikenal orang, dan baru pada tahun ke-14 kembali ke istana. Permainan ini dimenangkan oleh Kurawa dan para Pandawa, mereka pergi ke hutan untuk menjalani buangan selama 13 tahun.
3). Wana-parwan, isinya mengenai pengalaman-pengalaman para Pandawa selama 12 tahun di dalam hutan.
4.) Wirata-parwan, isinya mengenai keluarnya para Pandawa dari hutan dan singgah serta menetap di kerajaan Wirata.
5). Udyoga-parwan, isinya mengenai kembalinya para Pandawa ke Indraprastha dengan perantaraan Kresna, tetapi ternyata para Kurawa tidak bersedia menyerahkan tahta kerajaan kepada para Pandawa, sehingga timbulah peperangan antara kedua pihak tersebut.
6). Bhisma-parwan, isinya mengenai pertempuran antara pasukan Pandawan melawan pasukan Kurawa selama sepuluh hari.
7) Drona-parwan, isinya mengenai Drona yang menggantikan posisi panglima perang. Ia ditandingi oleh Gatotkaca, tetapi Gatotkaca terbunuh. Abhimanyu, anak Arjuna juga gugur oleh Dussana. Raja Drupada pun gugur. Drsadyumma mengamuk, dan pada hari ke-15 Drona terbunuh olehnya.
8). Karna-parwan, isinya mengenai kemarahan Arjuna dan Bima atas gugurnya Gatotkaca. Bima berhasil membunuh Dussana, sedangkan Arjuna berhasil membunuh Karna (hari ke-17) dengan panahnya yang ia peroleh waktu pertapa dulu.
9). Calya-parwan, isinya mengenai pergantian panglima perang para Kurawa yang dijabat oleh Calya. Duryodhana ditinggalkan saudara-saudaranya sendiri yang selama 18 hari gugur satu per satu. Ia mengundurkan diri dari peperangan dan bahkan menyerahkan seluruh kerajaannya kepada para Pandawa, dan ia sendiri hendak meninggalkan dunia ramai. Sikap Duryodhana menjadi ejekan para Pandawa, akhirnya ia memutuskan perang melawan Bima dalam peperngan ini Duryodhono gugur, tetapi sempat mengangkat Aswatthaman menjadi panglima perang.
10). Sauptika-parwan, isinya menceritakan Aswatthaman yang dapat menahan dendamnya terhadap tentara Pandawa, sehingga pada seusai pertempuran hari ke-18 ia menyusup ke dalam kemah-kemah Pancala, dan berhasil membunuh banyak orang termasuk Dhrstadyumna sendiri. Kemudian Aswatthaman melarikan diri ke dalam hutan, dan berlindung di pertapaan Wyasa untuk mengungkapkan penyesalannya. Keesokan harinya ia disusul oleh para Pendewa, lalu timbullah perkelahian antara dia dengan Arjuna . wyasa dan Kresna dapat menyelesaikan pertikaian itu, Aswatthaman menyerahkan semua senjata dan kesaktiannya, lalu mengundurkan diri.
11). Stri-parwan, isinya mengisahkan mengenai Dhrtarastra dan Gandhari, para Pandawa dan Kresna, dan semua isteri para pahlawan datang di Kuruksekta. Mereka menyesali semua yang telah terjadi, dan hari itu adalah hari berduka. Semua pahlawan yang telah gugur, dibakar bersama.
12). Canti-parwan, isinya menceritakan setelah sebulan lamanya para Pandawa tinggal dalam hutan, untuk mensucikan diri. Yudhistira segan sekali untuk menduduki tahta kerajaan yang telah memakan korban banyak, dan ia menawarkan Arjuna untuk menjadi raja. Wyasa dan Kresna membujuk dan menenangkan hati Yudhistira dengan nasehat-nasehat tentang nasib manusia dan kewajiban manusia terhadap kaun ksatria. Akhirnya para Pandawa kembali ke istana, dan Yudhistira menjalankan kewajibannya sebagai raja.
14). Anucasana-parwan, isinya menceritakan berbagai macam cerita, yang dirangkai sebagai wejang-wejangan mengenai soal kebatinan dan kewajiban raja, ditujukan kepada Yudhistira.
15). Aswamedhika-parwan, isinya mengisahkan mengenai Yudhistira mengadakan selamatan Aswamedha. Seekor kuda dilepaskan oleh Arjuna dan sepasukan tentara. Selama satu tahun kuda itu mengembara, dan tiap jengkal tanah yang dilaluinya menjadi daerah kekuasaan Yudhistira. Banyak pula raja yang menentang, tetapi mereka ditaklukkan oleh Arjuna.
16). Acramawasika-parwan, isinya menceritakan Dhrtarastra beserta isterinya dan Kunti mengasingkan diri ke dalam hutan untuk menjadi petapa. Tiga tahun kemudian mereka meninggal karena hutan tempat mereka tinggal terbakar oleh api Dhrtarastra sendiri.
17). Mausala-parwan, isinya mengisahkan musnahnya kerajaan Kresna akibat berkobarnya perang saudara di antara kaum Yadawa, rakyat Kresna sendiri. Baladewa mati, dan Kresna menlarikan diri ke dalam hutan, dan mati terbunuh dengan tidak sengaja oleh seorang pemburu.
17). Mahaprasthanika-parwan, isinya menceritakan bahwasanya para Pandawa mengundurkan diri dari dunia ramai, setelah mahkota diserahkan kepada Parikist, anak Abhimanyu. Dalam pengembaraan di hutan satu persatu meninggal, diantaranya yakni Draupadi, Sahadewa, Nakula, Arjuna, dan Bima. Yang tersisa ialah Yudhistira dengan seekor anjing, yang selalu mengikuti pengembaraan para Pandawa. Lalu datanglah Indra untuk menjemput Yudhistira ke Surga. Namun, Yudhistira menolak, jika anjingnya tersebut tidak ikut serta. Tiba-tiba anjing tadi menjelma menjadi dewa Brahma. Yudhistira kemudian langsung dibawa ke Indraloka.
18). Swargarohana-parwan, isinya menceritakan para Pandawa setelah mengalami pembersihan jiwa neraka untuk beberapa lama, masuk di surga. Sebaliknya para Kurawa, mula-mula ditempatkan di surga, kemudian berganti dimasukkan ke dalam neraka untuk masa yang tidak menentu.
Kitab Ramayana dan Mahabrata telah disadur dalam bahasa Jawa Kuno : Ramayana pada akhir abad ke-9 dalam bentuk kakawin yang bahasanya indah sekali, dan Mahabrata pada akhir abad ke-10 dalam bentuk gencaran yang diringkas. Kedua saduran itu, bersamaan dengan kitab Sang Hyang Kamhayanikan yang disusun pada zaman Mpu Sindok dan berisi uraian tentang agama Buddha Mahayana yang sudah bersifat Tantrayana, merupakan hasil-hasil kesusasteraan Jawa Kuno yang tertua.
Seperti sudah kita ketahui, kejayaan seni sastra Jawa kuno berlangsung di zaman Kediri. Hasil-hasilnya terutama sekali berupa kakawin diantaranya yang terpenting ialah :
1. Arjunawiwaha, karangan Mpu Kanwa.
2. Kresnayana, karangan Mpu Triguna.
3. Sumanasantaka, karangan Mpu Monaguna.
4. Smaradahana, karangan Mpu Dharmaja.
5. Bharatayuddha, karangan Mpu Sedah.
6. Hariwangsa, karangan Mpu Panuluh.
7. Gatokacasraya, karangan Mpu Panuluh.
8. Writasancaya, karangan Mpu Tanakung.
9. Lubdhaka, karangan Mpu Tanakung (sudah zaman Ken Arok).
Hasil-hasil kesusasteraan zaman Majapahit I yang terpenting adalah :
1. Negarakertagama, karangan Mpu Prapanca, tahun 1365 M.
2. Sutasoma, karangan Mpu Tantular.
3. Arjunawijaya, karangan Mpu Tantular.
4. Kunjarakarna, karangan anonim.
5. Parthayajna, karangan anonim.

Hasil-hasil kesusasteraan zaman Majapahit II (bahasa Jawa Tengah) ada
Yang ditulis dalam bentuk tembang (kidung) dan ada pula yang gencaran. Yang
terpenting di antaranya adalah :
1. Tantu Panggelaran.
2. Calon Arang.
3. Korawacrama.
4. Bubhuksah.
5. Pararaton.

Dimaksudkan sebagai kitab sejarah adalah :
6. Sundayana.
7. Panji Wijayakrama.
8. Rangga Lawe.
9. Sarandaka.
10. Pamancangah.
11. Usana Jawa.
12. Usana Bali.

baca selengkapnya hasil-hasil kebudayaan terpenting di Indonesia Indonesia melalui blog KPS:
http://komunitaspecintasejarah.blogspot.com/2013/08/hasil-hasil-kebudayaan-terpenting-di.html

Posted: Dec 31, 1969 (05:00:00 PM)
liyane podo mulih. ..
lha aku????
:(

Posted: Dec 31, 1969 (05:00:00 PM)
K4v y9 63r74n7! K4v pvl4 y9 m3n9!n9k4r! .... k4v y9 m3mvl4! M4'f k4l4v 4q y9 m3n94h!r! ... 3z7 k4dvn9 l0r0 73r0 dv0d0 !k! .............

Good sore all

Posted: Dec 31, 1969 (05:00:00 PM)
Game hiburan..

Tebak nama pemain dari huruf ( B )

me = bambang pamungkas
you = ?

Gak jawab. Gak tau nama pemain bola..

-=[[ #IQBAaL7 ]]=-

Posted: Dec 31, 1969 (05:00:00 PM)
Lo Adalah Teman Terbaik Gue Semoga Lo Bisa Menemui Teman Terbaik Di SMP Nanti

Lo Adalah Teman Sejati Gue Muhammad Ariiezs Gilang Shadega Panji Brunot Tongkang Yudhistira Nhono Ingatdd Mantemandt Iiedam Siiech KeeciIll MmarlLey Alda Margareta Veronica Syaputri Nurul Huda Nida Bowo Mantemand Rastafara
Dan Yg Terakhir Buat Mantan Gue Sekar Khhay Marleyy

Lo Semua Adalah Sahabat Gue

MY Friends
2222Suka ·

Posted: Dec 31, 1969 (05:00:00 PM)
:) Intan DJ Mengejutkan...
:( Fitriani Dikejutkan...

QF kejurnas PBSI
Tunggal Taruna Putri

Intan Dwi Jayanti [Jateng]
-
Febtriani Adistya Ratu [Jabar]
21-15 22-20 0:40

Marsa indah salsabila [Jateng]
-
Fitriani [Jakarta] [1]
21-13 13-21 21-18 0:55

Apakah Fitriani akan Jd sorotan lagi setelah Terkejut

HEhe
Semoga WS masa depan indonesia Terus bermunculan ke permukaan

LIKE = DOA

Posted: Dec 31, 1969 (05:00:00 PM)
Berikut ini adalah lampiran nama-nama yang lolos data dari sampai tanggal 7 Juli 2013 pukul 12.00. Bagi teman-teman yang namanya tidak tercantum dalam daftar nama yang ada diharapkan sesegera mungkin untuk melakukan pendaftaran ulang atau bagi teman-teman yang belum mendaftar agar segera mendaftar ke OSPEK UNY 2013.

Fakultas Bahasa Dan Seni

AAN HOFIF IMTIHANI
ADAM ALFARISYI
ADELIA AZIZA
ADI NUGROHO
ADITAMA ABRIANTO
AGUS PRIYAMBODO
AHMAD HUMAIDI
AHMAD NUR AWALUDIN JALIL
AHMAD ZAKI ALHUSAINI
AHMADA KHOIRULIL FATIH
AJI BUDI RINEKSO
AJI PRASETYO
AKHMAD BAHRUDIN WIJAYA
ALFIAN ANGGORO MUKTI
ALI BANGKIT HARIONO
ALI ZUHDI
ALIEF NISA-UL HANIFAH
AMALIA USWATUN KHASANAH
ANDRAINA ANNAS
ANDREAS EKA PUTRA
ANGELAMARICI DANGAYO AFRILAFTANTI
ANING PURITA SARI
ANIS MULYANI
ANISFA ANDIYANI
ANITA RATNA DEWI
ANNISA MAYSAROH
ANNISA NURRAHMAWATI
ANNISA OKTA ULIL ALBAB
ANNISA RIZKI PURWANI
ANTOINETTA VINSENSA AUDRIA
ANUNG AWALIA NUR IMANDA
APRILIA EKOWATI
APRILIANI ENDAH KUSUMASTUTY
ARDENIA PUNKY ANTASARI
ARDO KRISWINANTO UTOMO
ARIEF STYOKO PUTRA
ARIF BUDI DWI CAHYADI
ARIF ROHMAN
ARJUTYA RISANG SASONGKO
ARPHADYA SHANDY M
ARUNG GELLASIA MALAONG
ASRI NUR ANNISA
ASTRID GHASSANY
ATIKA RIFDA KARIMA
AYU NURJANAH
BAGUS PRASOJO
CARINDA NABILA HUDA
CLAUDYA FEBRI ROMADHON
DAMAR PRADEWA
DARA PUSPA ASMARADANA
DAYINTA GALIH JALANIDHI
DEFI APRILIA HANDAYANI
DESTIYA NOVITA
DEVI ANISA JEKTI
DEVITA KURNIAWATI
DEZY ARISMI PUTRI
DIAH PUTRI UTAMI
DIAN NUGRAHENI
DIAN PALUPI
DIAN SETYANA
DIANY ASRITISTHIA
DICKY SUSILOWATI
DIDI YULIONO
DIDI YULIYONO
DIMAS ANDIKA ARIOWIBOWO
DINDA MARDIANI LUBIS
DITTA FEBRINIA
DWI ANANDA PUSPITASARI
DWI NIKASARI
DWI NIKASRI
DWI VICKY SUGES VIRNIA
DWISTYA PUTRI VERDIANI
DYAH KUMALASARI
EKO SUMARNO
ENDAH KUSUMANINGRUM
ERI DUWI AGUSTINA
ERLINA ARTANTI
ERLINDA VITA ROMDHATI
FAHMI ARDHY PAMUNGKAS
FAHMI YOGA PRADANA
FAISHAL MAHDY
FAIZAL ACHMAD YUSUF
FARID PRIMANDHA PUTRA
FARIS FAISHAL AMMAR
FATIMAH DEWI RAHAYU
FAUZI SHOLICHIN
FAUZIAH MERDEKAWATI
FIDYATUROHMAH
GALUH JOTA KARANA PERTIWI
GESYA DWI AUGIA
GILANG AULIA WAHDANI
GOZIN NAJAH RUSYADA
GREGORIOS IRVAN EDHITYA SUGIYARTO
HANDINI MIJIL PANGESTI
HASNA NOVIANA
HELEN CLARA MANUA
HELMA EMIYATI
HENDRI NURHADI SISMIANTO
HERI SETIAWAN
HERMAWAN SUSANTO
HIMATUL ULWIYAH
HUDA AGSEFPAWAN
HUSAIN RAIS
I KOMANG SONI ANGGARIKA S.B.
IKA OKTAFIYA SURYA
IKHLASUL FAHMI
IMADUDIN YUDHISTIRA
IMAM RAMADHAN BAGUS PANUNTUN
INDAH DWI NUGRAHANI
INGGIT DWI KARUNIA
INNE MULIAWATI
INTAN KUSUMA DEWI
IRFAN ZIDNY
IRKHAM PRIYO BUDIAJI
IRMA PUSPA ZURYATI
IVAN ANGGA DEWANTA PUTRA
IVANA LIDYA MEILANI
JEANEKE STEVANI
JELITA NUR WASIM
KAMALIA WAHYU IKA CAHYANI
KANA USWATUN HASANAH
KEKE HERLIANY
KHUSNUL KHITAM
KINTAN HEKSA KUMALA
LARAS AVISTA DEWI
LELA AGUSTINA
LILIS ESTI ARIYANI
LINDA LIESTIANI
LIZBETH MELINDA MANIK
LIZZANI KURNIA PRATIWI
LUSIA CAHYANINGSIH
M. IQBAL AL KHABSYI
MASRU INSIYAH
MAULIDIA MELANI PUTRI
MEI MARDANI
MELISA WULANDARI
MIA ADILLA ISLAMIATI
MIFTAHUL JANNAH
MIRTASARI LIA PRASTIWI
MONICA BONNIE ANIZAR
MONIKA DEVI KURNIATI
MUHAMAD RIDWAN SETIAWAN
MUHAMMAD ARIFIN
MUHAMMAD HAMMAM MAHASIN
MUHAMMAD IQBAL WILDAN MUKHOLADU
MUHAMMAD WIDYA ARI WIBOWO
MUHARAM BM
MUVIDA AULIA RAHMAN
NANDA DWI ARIFIDIANTO
NANDIAN PRAMUDINTA
NASRUL MUBAROK
NEILA ZAHRA FAIZAH
NIDIYA SARI LESTARI
NIEDA FITRA ESTIKA
NILAM SARI
NISA FEBRIA SRIDIANI
NOPEMBERIS NUR PAHLAWAN WIJAYA
NOVAL MAULANA AINUL YAQIN
NOVI RATNASARI
NOVIARTI NARDILASARI
NOVITA WIDAYANTI
NUR AKTAFIANI GUSRIYANA
NUR HALIMAH
NUR INTAN SULCHA RATNAWATIE
NURUL ISTIQOMAH
NURUL PUSPITASARI
NURYANA AINUL ASFIN
OCTAVIA RIZKY PANGESTIKA
ODHA WIGARINGTYAS
OKTA TRY NANDA
OKTARIA DENOK JATMIKO
OKTAVIAN ADITYA NUGRAHA
OLGA FARABI
OVI CHANIA
PANDULU PRAMUDITA
PRATAMA AGUNG PRIHANANTO
PUHAS PINANDITA
PULUNG AGTIA RACHMADELA
PUPUT ANJASWARI
PUTRI SETIANI
PUTRIANA RIZEKI
RAFI APRI HAMADA
RAHMAT HIDAYAT DARWIS
RANI OCTAVIA SAPUTRI
RATI AYU PRATIWI
RATU KOMALA SARI
REAN SIANANDA
RENI WIJI ASTUTI
RENISTIARA MEDILIANASARI
RESTI RIZQY AMALIA
RESTI WIDHIASTUTI
RIANA DWI NURLITASARI
RIDA MARETIANI
RIKA WIJAYANTI
RINANTI ADWILIA MEILIANA PUTRI
RINTA ARYANTI
RIRIN SAKUNTALA
RITMA WIDYASTANTI
RIZKI RIYANDANI
RIZKY ARFIAN KURNIATAMA
RIZQINA NJR FITRIA KUSUMANINGRUM
RIZQINA NUR FITRIA KUSUMANINGRUM
ROHAENI DEWI
SANDRA DIAN PAWESTRI
SATYA WAHYU RAMADHANI
SEPTIAN DWI RAHARJO
SIDIK PRAYOGA
SINTA ANGRAINI
SINTA ANGGRAINI
SISKA AZRIANI
SISKA WIDYAWATI
SITI MASITOH
SITI RAHMA WATI
STEVANUS ODI PRATAMA
SUCI ANGGITA
SURYANINGTYAS BUDI ASTUTI
SUSANTI ANJARWATI
SYAFRINI NABILLA
TABITA HERNI ASTUTI
THEODOR LUDWIKI DIPONEGORO
TUTI ALAWIYAH SOEKIRNO
ULFAH RUMANA
ULI WULANDARI
UMMI SHABRINA DAMAS
USWATUN HASANAH
VICKIE AMANDA WARDHANY
VIKCO OKTAVIANI
VILLANDYTA ASTIKK WIJAYA
VIRNA ELVIRA
WAHYU SATRIA
WAHYU SETIAWAN
WARDAH KAHIRUNNISA
WIDYA ADI ARDHANA
WIDYA HASTUTI
WILDAN FAZA
WILDAN WIRATDONI
WINTARI KUSUMANINGTYAS
WISNU MURTI CATUR SASONGKO
WULANDARI KUSUMANINGRUM
YABES YUNIAWAN SAGRIM
YANNA GAYUH RHISMAWAN
YENI DAMAYANTI
YULIA KUSUMANINGRUM
YULINDA KHARISMA
YUNAN ADI PUTRA
YUNITA MAHARANI
YURIKE SOFYANING PRATIWI
YUSUF CANDRA NUGROHO
ZAKARIAS ARIA WIDYATAMA PUTRA
ZULFATIN RAHMAHANI
ZUMROTUL ALIYAH

Fakultas Ekonomi

ABISAG NINDYA PERMATASARI
ADITYA SULISTIYAWAN
AGUNG INDRA SUHARTO
AGUNG TRI UTOMO
AKHDAN NUR SAID
ALFI WAHYU PRASETYO
ALVIN ADITYA
AMELIA RAHMAN
AMIDA DHESTIANA MUSAFFA
ANANDHIYA INTAN PRABANDARI
ANDRI NURMALITA SURYANDARI
ANGGARA DWI SULISTYA
ANGGUN DHARMANING PUTRI
APRIYADI PRATAMA
ARIN DWI CAHYANTI
ARNITA SARI
AYU NUR ANISA
BAGUS NUGROHO
BANGKIT NURWIDIYANTO
CAHYO ADI NUGROHO
CHANDRA YULIA PRASETYAWATI
DESY MAYANG SARI
DESY PURNAMASARI
DIAH ROSYANI
DIASTRI NAWANGSIH
DICO TRY WIDYATMOJO
DINA NUR ROCHMA
DIO FEBRI PRATAMA PUTRA
DWI HANI AMINING TYAS
DWI LESTARI NINGSIH
DWI TURSINA UTARI
ELISA KURNIA DEWI
ENDAH WIDIARTI
ERIN FEBBY ALFINATA
ERLIN NURLAELI
ERYAN DWI SUSANTI
ESTER ARDE LAM
FARAS DWI IZZATI
FATIKA MARJATININGRUM
FAUZAN KURNIAWAN
FENA WULANDARI
FITRA DWI PUTRA RINANDA
FITRIA FEBRYANA
FORTIK FENTRI FIDIYAWATI
GUNTARI AWIT PRAMULIA
HAFIDZA ULFA ALMADARA
HANINDYA FEBRI QADARIKA
HASLITA NISA
HESTU DANDY HARTAJI
IBEN BINAR RUSYANA
ILHAM INSANI ISMA ROZAQ
INMAS ARDIKA MULYANINGRUM
INTAN SAPUTRI
ISNAENI UTAMI
IVAN OKTAVIANTO PRATAMA
LIDZA YUNIAR ERWANDA
LISA NURFATMAWATI
LULUK DWI RUKMANA ULFA
MAULANA WITANTYO
MIA FRISKAWATI
MIA RIZKY FAUSI
MOH ROSID AGUNG RAHMANTO
MOH ROSID AGUNGB RAHMANTO
MUHAMMAD ABNA FAWAIQ
MUHAMMAD IQBAL YOGA PRATAMA
NADYA NELSI LILIS ULIARTA SIMAMORA
NANSISCA EKA ARZITA
NASTITI ESTI KALIH
NESYA WIDYAPUTRANTI
NISA INDIRA VHISTIKA
NITA LESTARI
NITA LESTARI
NOVIA NURUL FIRDAUS
NUGROHO BUDI SANTOSO
NUNING ERNAWATI
NURUL HIKMAH
NURUL HIKMAH
OKTA SOFAUSSAMAWATI
OKTAVIANI MULYATI
PANDU BANIADI
PYPIET NOOR HASANAH
RACHMI FATIN
RATNI DEWI
RENI LISTYAWATI
REYNIS PUTRI RAHMANINGTYAS
REZA APRILIANDI
RISKA NURMALIYANI
RIZKA ARDISTYA
RIZKA ARDISTYA
ROSA DELIMA ISTININGTYAS
ROSALINA DEWI PAMBUDI
RULLI LOVITA ARIMA SARI
SAPUTRI KUSUMA MAHARDIKA
SEPTIAN INDRA KURNIAWAN
SEPTIANA RAHAYU
SHILVINA WIDI IRSANTI
SISKA CAHYA MAULINAWATI
SONY DIMAS WICAKSONO
SONYA DESMILLA NUGRAHANY
STEFANI FIERZCA DEWI
SURYA HARI SAPUTRA
TARTIKA MUQSITA DEWI
TERIANA MARDHA HIDAYAT
TITIK RAHMAWATI
TUTI NINGSIH
VELA NORLITA
WAHYU NUR FEBRIYANTO
WAHYU SAFARINA DEWI
WAHYUNI
WIDYA WULAN SARI
WIMBOGO WIDHIANTO
WORO SRI ANDAYANI
WULAN OKTAVIANA
YAN ADI UTOMO
YENISA RIZKI HAWA
YOGA WICAKSONO
YOSEF HARTOKO
YULIS ISMAYASARI
YURIKE PRAPTIANA
ZALSAGIANT SEPTIANA

Fakultas Ilmu Keolahragaan

ADELINA WULANDARI
AGHISNA MEGARANI
AGUS PRESTIANTO
ALFATH PATRA JOLANDA
AMANDA GINTA OKTIVIANINGTYAS
ANAS RACHMAD SAMPURNA
ANGGA PRADIKA SANDI
ANGGITA RISMADINI
ARDIKA YUDHA GUNANTARA
ARIF HIDAYAT
BIMA AJI HUDAYANA
BIMA ANDHIKA PUTRA
BIRLY EGGA SAPUTRA
BOBITYA ADRINA
DEA ZUKHRUFURRAHMI
DESI PUSPITA SARI
DEWI NURHIDAYAH
DHEDHY PURWANTORO
DHIAH RISTYANDARI
DINA MUTIAH LARASATI
DWINANDA BUDI YUNANTO
DWIYAN WAHYU WICAKSONO
ELVIRA WARDIANTI
ENY YULY DIMASTUTY
ETIKA SURYA ROMADHONI
FAIZAL RIZALDI
FAJAR BAYU SETIAWAN
FARHANA RISQI
FARUQ HARDIANTO
FATKHURROHMAH
FERNANDO REDONDO HERO MAKING
FERO YOGA HARYANA
FINANDYA SUCI LARASATI
FIRMAN DWI PRABOWO
GLADY SUKMA PERDANA
HENNY KUMALASARI
HERNANDA LUKI SATYA NUGRAHA
HERU DWI NOVANTO
HILDA KHAIRUN NISA
IDA BAGUS SUKMA TRIADI KAJENG
IMAM HARIYADI
INDAH SUSILOWATI
IRZA AJI RAMADHANA
JAMALUDDIN RASYID PINTO ADITYA
JUPRI EDHO IMASTRA WARDANA
JUPRI EDHO IMASTRA WARDANA
KARTIKA DWI KUSUMAWATI
KURNIA DWI ARYANI
KURNIAWAN SATRIA PAMBUDI
LANGGENG DWI SULAKSA
LARASITHA ROMADHANI
LARASWATI ROSALINA SETIADI
LENY KARTINA
MADWA ASHUMTI
MAEZAR RIZALDY PRATAMA
MARETHA CLARA AYUNINGTYAS
MEILIANA DWI PUSPITA
MELA SUHARIYANTI
MOCHAMMAD FACHRI SETIAWAN
MONIKA MAYASARI
MUHAMAD FANANI AUGI NUGRAHA
MUHAMMAD AKMAL ZAIN
MUHAMMAD FATHUR ROHIM
MUHAMMAD FUAD HASAN
MUHAMMAD ICHSAN KUSUMAJATI
MUHAMMAD NIZAR NAYARUDDIN
MUHAMMAD WAHYU ARGA
NGESTU PRAMADYA
NOKI PUTRA DINATA
NORI ABDUL BHASIT
NOVI ULANDARI
NUR FARIZAL
NUR SHODRINA ZAKIROH
ONKKY WIJAYA
OTIAN CANDRA KASUMA
PAMUNGKAS FEBRIANA
PANDU SUKMAULANI
PANDU WIDANARKO
PRADHIKA PINTALOKA
RAFIKA ADI HAFARA
RAMADHAN SIDIK
RAMDAN
RAMMA INDRA PRAMUJI
RENALDI
REVAN BAGUS ARIFIYANA
RICO ADITYA NUGROHO
RIZQI FAUZIA WAHYURINI
ROHMANTO
ROSIANA DESI PRAVITA
SABIEL SUPRASTYO
TEGUH RACHMAN CHAERUDIN
THOMAS RAJU ANDIKA SUKOCO
TRIHANDIKA ROSYID CAHYADI
WAHYU ARIFIN
WAHYU RISTYANTO
WASIMAN
WINDI WIDAYAT
WULAN RACHMAHANI

Fakultas Ilmu Pendidikan

ADEN CHRISNANDA
ADVENDIANTO DWI PUTRO
AFIFAH HASNI
AFRINDA PRADITA
AGISTA NURUL AZMI
AGUNG PRATAMA PUTRA
AIDA FITRIA
AJI NURWIJAYANTA
ALVIAN SAKTI ADHI PRATAMA
ALVIAN SAKTI ADI PRATAMA
ALVIN FUADI
AMALIA TIKA PUSPITA
AMIRA NUR KHAIRUNNISA
ANANDA GALUH SUASARI
ANDANI FITRIANISA
ANGGA ANZELAN WACHYUDIN
ANGGA BAGUS DHARMAWAN
ANGGA NOVIHASTAKA SAPUTRA
ANGGUN TARUNA PUSPITASARI
ANI DWI ASMARA
ANISA IDZNI YUSUF
ANISA MUJI PRASIDYA
ANISA SOFIE NOVIANA
ANITA DWI LESTARI
ANITA TRININGSIH
ANNA ANDITHA
ARI FITRIANI
ARIF NUR ROHMAN
ARMA JULITA MAHARANI
ARRINDA FIBRIANA
ARUM WAHIDATUN
ARYO DANANG WICAKSONO
ATIKA NUR HIDAYATI
AULIA ILHAM BACHTIAR
AYUNDA MAHARANI
BAYU AJI HARTANTO
BAYU PRASETYO WIRAWAN
BEKTI SUKESTI
BELA JENDRA
BHAYU SETYO NUGROHO
BIAS RIZKIA PERTIWI
BISMA PUTRA APRILIANTO
BUDI RUSTANTA
BUSTAMI AZHARI
CAHYATI INDAH SARI
CAHYATI WULANDARI
CALISTA DEVI HANDARU
CHITTA DANAR PRATIWI
DAYINTA GALIH JALANIDHI
DELFIANA ANGGRAINI PERMATASARI
DENY ESTININGTYAS
DESTYANTO SUMARNO PUTRO
DEVI RUSMAWATI
DEWI BUDI LESTARI
DEWI PERMATASARI
DIAN DAMAIRIA
DICKY HENDRAWAN
DILA RAHMAWATI
DINI INAYAH PUTRI
DIYAH LESTARI
DWI HERYANTA
DWIKITA ARDIYANTI
DYAH ALFIYATUN FITRIANI
DYAH USWATUN CHASANAH
EDO LELY SAGITA
EHA JULAEHA
EKA AYU ASRINI WIDYO AGUSTIN
EKO OKFIANTO
ELGA SURYA ANDIKA
ELIN FEBRIANITA
ELYSA ROHMAWATI
ENDAH WINDIASTUTI
ENDAH WIRATNA SARI
ERNAWAN
ERTHIENDA MAHARDIKA ISWARAWATI
ESNY BAROROH
EVA AMALIA
EVY ASTUTI
FAJARINA HARJIYANTI
FARADHILA AZIZ NURCHOLIS
FARAH PRIHANDINI
FAUZI FATHURROHMAN
FAUZI SATRIA PERDANA
FESTIA GABY DISA PUTRI
FIDA MUSTHAFA
FIKA RESTU DIANASAPUTRI
FISKA DANIA
FITASARI NUR KUSUM A WARDHANI
FITASARI NUR KUSUMA WARDHANI
FITRI AMINATUL AZIZAH
FITRIANIDA UL HUSNA
FRANCISCA MEGA BERLIAN
FRANCISKA MAYA EDWINA INDRASANTI
FRI DANIEL.PURBA
FRISTYANA ANINGRUM
FRISTYANA ANMINGRU
GEMILANG DIAN PERMATA ARTIKA SARI
GUPI ROHMAN NURMANSYAH
HANGGARANI DHANISWARA
HANIF FAIRUZY DANIPRABASWARA
HANIFA AMALIA BAROKAH
HANUM KHOIRUN NISA
HANUM ZULFA AFIFAH
HERTA SURYA MAHARTA
HESTI SETYAWATI
HUDA RIYAYA PUTRA
IBRAHIM AJI KURNIAWAN
IFFA FAZRIATUL ULFAH
IIN DWININGSIH
ILINA
INDAH MUSTIKA SARI
INDRI PUSPITA SARI
INGTI BINOVA AGOMARA
INNEKE PUTRI AULIA
INSHOFA
INTAN WILIANA SANTOSA
IRFAN ROSYID CHOIRULLOH
IRMA MEILINA NURFAJRIATI
ISNANDA ARIZTASARI
ISTI NURJANAH
ISTU KURNIASMI
JAKA BANGKIT PRASETYO
JIMI DWI TRISTIANTORO
KARINA RATRI SWASONO
KARTIKA ISNA SUJATI
KARTIKA WAHYU SLAMET KUNCORO
KHILSA AZKANIA
KHUSNA AULIA
KURNIA SANDI
KUSNINDYAH SUDIASIH
LADYKA AYUNINGTYAS SIDHOWATI
LAILY KHOIRIL HANA WIJAYA
LATIFA NORMA ANORAGA
LIA NIKMAH KURNIAWATI
LIA VITARIA
LILING NURKEMALA
LIMAS ASSIFA SURYANINGTYAS
LYSKA ISDIANA MAULIDA
M.LATIEF NUR ARIFIN
MAHASTI WINDHA WARDHANI
MARSELINA TRI WIDISAPUTRI
MARYANI
MEDYASASI
MEILAHASFI WIDYASTITI
MELINDA DWI SETYA HANDINI
MELINDA SAFRITA ARYANA DEWI
METTY NUR UTAMI
MEYLANI ASTINO PERDANA
MIA FATIMAH YOGA PRADANI
MIRA WIDIANTI
MOHAMMAD ANTON SUJARWO
MONICA KRISNA AYUNDA
MUHAMMAD HANAFI
MULIA BEKTI HASTUTI
MUNA MARDIYAH
NANDA ISNA KHOIRUNISA
NANY ADIKA PUTRI
NIA WIDYAWATI FITRI PUSPITARINI
NIKITA MULYAWATI
NILA KUSUMAWATI
NISITA PRABAWATI
NOOR ARINDA FAUZIAH RIZQI
NOOR FITRIANA MARTANTI
NOVENA PUTRI DEVI
NUGROHO ARIF DWI JAYANTO
NUNGKI ANDRIYANTI
NUNGKY RIZKA NUGRAHENI
NUR EKO MARJOKO PURUHITO
NUR HIDAYATI
NUR LAILA MAHARANI
NUR ROCHMAH FAJARINA
NUR SHOLEHAH DIAN SAPUTRI
NUREKA WULANSARI
NURFANI KHOIRIYATI
NUROHMAH
NURUL UTAMI
NURUL DWI RAHMAWATI
NURUL RAHMADHANI
OKTAFIANA IRMA SUSANTI
OKTIWI
ONE NANDA FEBRINA
ONI JOHANTON
OZYN HIDAYAT
PIPIT CONY SAPUTRI
PIPIT YUSUF FENDY
PITRI INDAH NURHASANAH
PRADIPTO CANTYO BAGASKORO
PUJI NUR HIDAYAT
PUTIK AFRA
RAGIL CAHYA ADI PRASTYA
RAHMAT DWI GUNAWAN
RAHMAWATI
RANGGA ANDRIANTO
RANIKA KUSUMA WARDANI
RANITA VINDRIYANA
RATNA TRI RAMADHANI
RENI LISTYANA
RESTU AJI PURYANTO
REVIKA NIZA ARTIYANA
REZY SUSANTI HARAHAP
RIA KARINA DWI SEPTINA
RIA VIONITA SARI
RIFKA ANNISA
RISKA WIDYANASARI
RIYADINA YAHYA
RIZKI OKTAVIANA SARI
RIZKY AULIA SORAYA
RIZQI FATHIN SAFFANAH
ROCHMAT KOMARUDIN
ROSALIA DWI RINI
RUNI NUR SAKIRINA
RUNI PRATIMA SARI
SAMBODO HESTU BUDOYO
SARASWATI DEVI
SARI NINGTYASTUTI
SARIFUDIN
SATYA LAKSANA
SEPTIAN KURNIAWAN
SIDDIQ FEBRIYANTO
SINDY AGUSTINA
SISCHA PUTRI PRATIWI
SITI CHOERIFKI
SITI LATIFAH
SITI RIKHA MAHMUDAH
SIWINING LESTARI
SUADITYA AMORIA SUCI
TARIDA NUR ARYANI
TATO ROVAL SAMBORA
TEGARYUANTI FEBRIKA WULANDARI
TIARA PUTRI UTAMI
TIARA RIZKI NOVINDA PUTRI
TIFA MUSDALIFAH
TINUTUR RESTU DWITAMA
TITIS SATITI KAWURI
TRI DILLA ADRILIANTI
TRI RATNA PRAFITRI SARI
TU BAGUS AGUNG SETIAWAN
TUSTIKA DUWI LESTARI
TUSTIKA DUWI LESTARI
TUTUT WIGATI
TYAS INDAH NOVITA
UMI FARIDAH
UMI LAYYINA
VERA INDAH KUMALASARI
WAHYU CIPTANING TYAS
WAHYU SETIABUDI
WAHYU SIGIT PERMADI
WAHYU WIDI ASTUTI
WARIH ANGGI PRATIWI
WHANA YANUARTI
WIDYA EKA WAHYU LESTARI
WIDYA OKTAVIYANI ARDI
WIJAYA FIRMAN PRASETYA
WINATI DYAH ANJELIA PUTRI
YAHYA SUTRISNA
YAHYA WAHYUNINGSIH
YONATHAN JANIUS AXEL HALAWA
YULIA FAUZI
YULIA NUR RAHMAWATI
YULIADINI RAHAYU
YURIKE SOFYANING PRATIWI
YUSUF SANGAJI
YUSUP TIRTO AGUNG LAKSONO
YUWANDA MULYANINGRUM
ZULFA RAHMAWATI

Fakultas Ilmu Sosial

ABDI RAGA
ABDI SUKMA
AGITA KHOIRINNISA KUSUMA WARDANI
AGUNG TRI LAKSONO
AHMAD HUMAIDI
AHMAD RAMADONI JASA PUTRA
AKHMAD FIDIANTO
ALAN SATRIA PINAYUNGAN
ALIF RAMADHANI RAHMAN
ALMIRA KESUMA RAHAYU
ANDRIE KURNIA SAPUTRA SETYAWAN
ANGEN KINANTI
ANGGA DWI KURNIANTO
ANIDAH AFIFAH
ANISA WAHYU PARINDRAS
ANISA WULAN SARI
ANNISA EKA RIZKI PRATIWI
ANNISA WIDI RACHMADIYANTI
APRIANGGA NORYUDHA
ARBAI YOSO SUHARTO
ARDIKA KURNIANDARU
ARDIYAN FATAH YUDHISTIRA
ARDIYAN LISAPUTRA
ATIKA ZUDHI SAFITRI
AYU WYAS SEKAR ROCHANI
BELLA AUDIA RAHMAWULAN
BETA DESI PRATIWI
CAESAR NINDYAS BAYU AJI
CHANDRA SAPUTRA INDAH JAYA
CLARA ELYS YUNITA
DENI ARIES KURNIAWAN
DENOK DIAHPRATIWI
DESITA SETYANI
DESTA MACHLINDA SELFIANI
DEVI AYU RISQIKA
DEVIANA F.A
DEVY DARMAYANTI
DEVY HAPSARI
DHIYAH MUT MAINAH
DIAH SAFITRI
DIAN RIZKY ARNANDIKKA
DIANA PRASASTIAWATI
DIMAS WICAKSANA NUR FAISAL
DINDA MARDIANI LUBIS
DITA AULIA PUTRI JATI
DIYAH ASIH KARLINAWATI
DUWI JUMIATI
DWI MARTA LINDA
DWI SEPTIJUMIANA SUMARSIH
DWI SUSILOWATI
DWI WIDYOWATI
DYANA MARANTIKA
DYNI AMALIA
EGA SULISTYANINGRUM
ELIES EKA PRATIWI
ELISA PUSPITA RINJANI
EMDA NUGROHO
ENDAH PUSPA RINI
ENDAH PUSPITA SARI
ENDAH PUSPO RINI
ERIKA AKMALA HAYATI
ERITA FAHMI NUGRAHENI
ERLINA GUSTARINI
ERLINA INDRI PUJI ASTUTI
FAJAR PERMADI
FAJAR SUSILO PUTRO
FAUZIAH TAQWARINI
FEBY WAHYU SAPUTRI
FERGIANA DIKY SAPUTRI
FIAN APRISKA
FIRTA DESI NUR ARYANI
FITRI HANDAYANI
FITRIA MOLANDARI
FITRO MIYANTO
GALUH PUSPA SARI
GANA EGAR FEBRIYAN
GANJAR RETNO SULASTRI
GISTA CERI APRASNJA PARAMITHA
HANIF SRI YULIANTO
HASHI SETYO RIESTYANTOMO
HASTO RUSTIADI
HENRIKUS WAWAN KURNIAWAN
IKA NUR AFNI
ILUN MASTIYANTI
INDAH PERMANAWATI
INDRIANI DYAH PANGESTIKA
INTAN KUMALASARI
INTAN NUR ASTIKA WULAN
IRA DWI PUSPITASARI
IRWANTI
ISNA KHOIRUN NISA
ISNAINI ISTIKHOMAH
ISWADANI ASRI WAHYUNINGSIH
KHOLIP KURNIAWAN THOYIB
KHOMSUN SUBARKAH
KHUMAIDAH EKA LESTARI
KRISNA ADITYA WICAKSONO
KUNITA ARIYANI
KUSMIYATI NABILAH LESTARI
LAKSITA PUTRI NURSOLIKHAH
LAKSMITA PUTRI NURSOLIKHAH
LARAS NURROYANI
LATIEF ACHMAD FAUZI
LENDI TRI WIJAYA
LUKY DEWI ANJANI
LUTFI IRWAN DARMAWAN
LYNA HIDAYATUL KHASANAH
MAHARANI BILQIS
MARFUAISYA NUR DIANI
MARFUAISYA NUR DIANI
MEILA RATNA SARI
MEILYTA LUSIYANTI
MEYTHA NATALIA PURWANTO
MOCHAMAD WAHYU PRATAMA
MOCHAMAD. WAHYU. PRATAMA
MOHAMMAD RAMDHAN SANTOSO
MONICA KRISNA AYUNDA
MUFTI AMRI NUGROHO
MUH. ARIEF FIDDINI
MUH. SATRIO BINASDANTO
MUHAMMAD AFFAN
MUHAMMAD AZMI
MUHAMMAD BRAMASTO
MUHAMMAD FARISH RASYADAN
MUHAMMAD NASIR SALASA
MUHAMMAD SUKRON MAHADI
NELA FEBRYANTI
NINA OKTRIVIA NURASTUTI
NINDY FADHILATUN NISA
NINDY FADHILATUNNISA
NINGRUM HARJIANTI
NINING NUR LAILI RAHMAH
NISRINA KARTIKA WULAN
NOVA PRASETYO ADI
NOVIE ISTORIA HIDAYAH
NOVITA WULAN SARI
NUR CHOLIDA
NUR FEBRIYANTO
NURFA EZA FIRAS NAUFAL
OKTAFIANINGSIH
OKTAVIA MARYSTIASARI
PEFI MERLINA
PERANANTA SIHOMBING
PONGKY PRAMESWARI GANESIA
PRARESTA SASMAYA DEWI
PRICHIA DEANE PUTRI
PRICILIA IFANDA PUTRI
PRIYO UTOMO
PUSPITA INDAH LESTARI
PUTRI DEVINTA SARI
R M ADI BAMBANG KUSUMA AJI
RAFLIANGGA PATMA SAPUTRA
RAMADHAN SURYA ILMIAWAN
RANA ATIKAH
RASYID RIZKIAN ANHAR
RATIH PURWANDARU
REIZA NUR CIPTHA
RESKA TRISNAWATI
RESTU HASTUTI
RESTU HASTUTI
RESTU HIDAYAT JUARTA
RETNO PUJININGTYAS
RIJALUL KOWAM BILHAKIKI
RIKKY NUR KRESNAWAN
RIRIN PUTRI AURITA
RISKY PRIMASTUTI
RR. GEMA ROVELLIN RAHARJA
RUHAMAHANI FATHU RAHMAT
RURI PUJI HASTUTI
RUSLI EKO DWILIANTO
SAMSUL HUDA
SARTIKA APRIYANI
SATRIANA RAKA CHRISMA PUTRA
SELVY DESIANA HERMAN
SEPTI DEWI SUSANTI
SHANDY SEPTIAWAN J
SISKA KATIYASANTI
SUBAIDAH RHAMDYANI
SUSI ANDAYANI
TRI ADMOKO
TRI PUTRA BIMA PRABAWA
TUBAGUS NOER IMAN ACHMAD SUMANTRI
UCI PRI TRISNAWATI
ULFAH YUSTITI FARIDA
VIDA KHOTRUNADA
VIDYA WINDY NURFATIAR
WAHYU NURHIDAYAH
WISNU PANJI PRAMONO
WIWIT WIJANARSIH
YANRA SUTRIAJI
YANUAR SHANTI RAKHMAWATI
YOKI AGUNG SEPTIAWAN
YOSEP NURMAWAN
YOZI VIDIASTUTI
YUDHA MANGGALA
YUSUF SURYA NOVANDA
YUYUN ARRINING JAYANTI

Fakultas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam

ABDUL AZIZ IRODATURRAHMAN
ADETIA LITA AGUSTINA HARAHAP
AFIFAH NURHARYANI
AHMAD NUR WISNU PRIYADI
AISYAH RESITA RAHMAWATI
ALDYANA PERTIWI FARIZKY
ALFIAN EDI NURJOKO
AMALIA FITRIANI
AN NISA YANTI
ANDINA YULIANA DEWI
ANDIRA PRATIWI KUSUMAWARDANI
ANES DEVY ANGGRAENI
ANGELA MERICI WINGSATI JANU ASTUTI
ANGGISTIA DEVIANTI ISWANTO
ANGGUN YUNIA MAHARANI
ANGKI OKTA VIANUS
ANIS ANYA HABIBAH
ANIS RANI ZAKIYAH
ANISA NUR JANNAH
ANISA SAFITRI
ANNISA
ANNISA DYAH AULIASARI
ANNISA NUR ARIFAH
ANNISA RIZQI YASMINE
ANNISA SUMINAR
ANTON SUWARDI
APRI WIDODO
ARIES MAHAYANA SETIAWAN
ARIF PAMBUDI
ARTIKA ANINDIYANI NURSEJATI
ARUMINAH
ARYATI WIBOWO
ASIH RAHAYU
ASTI DIAN ARINI
ASTI MUNAWAROH
ATIKA NUR WULANDARI
AULIA DAMAYANTI
AZIZ ANSORI RANGKUTI
AZMI RAHMAWATI
BAGUS UTOMO
BAIQ IKA LESTARI
CAHYOAJI PUTRA ANGGARA
CHLARISSA EARLY ARUMY
CHRISTIANTI ELLIS RAHAYU
CHRISTINA WIDHI HANJAYANI
CINTA ADI KUSUMADEWI
CITTA CAKRAWALA
CUCU CAHYANINGSIH
DEFY KUSUMANINGRUM
DELIYA MINIANUR
DESI AULIA WATI
DESI HARTINAH
DESI NUGRAHENI
DESSY PUSPITA RINI
DESSY ROSEANAWATI
DESTI SUFIANTINI
DEVI FERIYANJANI
DEVI RATNA SARI
DEVI RATNA SARI
DEVRY PRAMESTI PUTRI
DEWI IRA PUSPITA SARI
DHIKA HESTI PRATIWI
DHIMAS GAYUH AR RAZAAQ
DIAH AYU INDRANINGTIAS
DIAH NURAINI KARTIKASARI
DIAN RETNO KUSUMANINGRUM
DINDA MARDIANI LUBIS
DINDA NADIA MUTIARA IFTHINAN
DITA ALDILA KRISMA
DIYANAH FAJRIYAH
DWI ADITYAS RARASATI
DWI CAHYANINGSIH
DWI NURHAYATI
DWITA RACHMAWATI
DYAH PADMI
DYAH PUTRI UTAMI
EKA SEPTIYANINGRUM
ELA RUKMANA
ELLISA APRILIA
EMA HANNAPUTRI
ENDAH SETYO RINI
ENNY DWI CAHYANTI
ERIZA DEADARA
ERWAN ADITYA
ERY TONANG BINTORO
ESNY YANUARTIKA
ESTI SETIAWATI WIDODO
ESTY HARDIAN CHRYSNAWATI
FACHRUNNISA FULAN ANGGRAINI
FADHILAH NUR AZIZAH
FADHILAH NUR AZIZAH
FADILA DYAH RAHMAWATI
FANDI KURNIA GIRI
FANI ZAKIATI
FANTI RESTIKA FITRIYANTI
FAPRIYAN WIJOYO MULYOPRATIKNO
FARAH NOER AINA ARIFIN
FARAH NUR JANNAH
FARIDA RIZA UMAMI
FARIHA SUCI RAHMASARI
FATKHI NUR KHOIRIYAH
FATMA SEPTIYANI
FAUZIA LATIFA PUTRIANI
FAUZIYAH CHOIRUNNISA
FAUZUL MUNA AFANI
FEBRIANA WAHYU MUNINGGAR
FEBRINA RIZKI DWIYANA
FENTTY REVIANTIKA
FERIDA DWI PRASETYONINGRUM
FIFALDY ADHAR QUTHNI
FIRDA CHOIRUR RISKA
FIRDA PUTRI DAROJATI
FITRI HANDAYANI
FITRI PUSPITASARI
FITRI SULISTYOWATI
GALUH AJENG ANTASARI
GALUH SEKARTADJI
GENDRA DEVI PUTRA ACHIR
GINA ADILA PERTIWI
HAERANI MAYSYARAH
HANA FIKRI MULYANI
HANIF SYARIF MAHMUDA
HARIANI RAHAYU
HARSITI INDRAWATI
HEMAS MALIA PANGESTIKA
HERLINDA MEILIANITA
HERLINDA TRI YUNITA SARI
HERLINGGA PUTUWITA NANMUMPUNI
HESTINA WIGATI
IHSAN ADI PRATAMA
IKA DUININGRUM
IKA PUTRI UTAMI
IKHWAN NURYANTO
ILMA IHSAN MAJID
IMAM ARIFIN
IMAMAH
INAYATUL LAILI
INDAH DEWI PITALOKA
INDRA KUSUMA WIJAYANTI
INKA CHELLA ANGGELA
INTAN FAJAR CAHYANTI
INTAN FITRIANI
IPUT KARNILA
IQLIMA RAMADHANI FABELLA
IRNAWATI WIDYA HASTUTI
ISROFAH UMMI FADHILLAH
ITA ERMALA LESTARI
JENI DWI PRASETYO
KARTIKA JUNIAWATI
KASYIFATUN AENI
KHARIZA NURUL MASLIKHAH
KONFEBI YOKA
KURNIA DWI OKTAVIANI
LATHIFA HIDAYATI
LEONARDUS RAGIL PAMUNGKAS
LINDA ANGGRAENI
LINDA INDRIAWATI
LUCKY ENJANG SARI
LUTHFANNISA AFIF NABILA
LUTHFI FAHMI ROSHAANATUN
MAHARDHIKA HARRY NUGRAHA
MAHARDIKA HIMAS NUGRAENI
MANGGALA WAHYU AGAMOKTA
MASRIFATUN NGAISAH
MAYA NUROHMAWATI
MEI RINA ANDARWATI
MIA NOOR SHAFIRA PRIDIASARI
MIFTA TYAS LAKSITA SARI
MIFTAHUL HIDAYATI
MIFTAKHULJANAH
MOCHAMAD RIZAL AMANULLAH
MONICA YASYA ALIFIA
MUFTIATUL RAHMAWATI
MUHAMAD WILDAN HABIBY
MUHAMMAD GIFARI ARSAL
MUHAMMAD IHSANUL FIKRI
MUHAMMAD IRMA SUNU DWIDJANTORO
MUJAHID AINUROHIM
MUTIARA KHALIDA
NABILAH RIZA PUTRI
NABILAH ROSA PUTRI
NAJA NUSAIBAH
NANDYA MAHARDIKA
NANING IMROATUL FAIZA
NAUFAL HANIF HIBATULLAH
NENSI NUR ASTARI
NIA UMI NUZULLAILA
NITA AYU NURJANAH
NONI WULANDARI
NOPITASARI
NOVA RAHMAWATI
NOVI AMBARSARI
NOVIA PERDANA KUSUMAWATI
NOVITA DWI AMANDANI
NOVITA NURCAHYANTI
NUR ANISA DIKA MAHARANI
NUR BAEITY ANDRIYANI
NUR FITRI DWI ASTUTI
NUR FITRI DWI ASUTI
NUR IHDA ZULAIKHA
NUR INDAH SETYANINGRUM
NUR MUNIFAH
NUR RAHMI NUGRAHENI
NUR ROHMAH WIDAYATI
NURAENI PUJI WINAHYU
NURMA FAUZIANA
NURUL DWI SYAFITRI
NURUL JANNAH YULIANI
NURUL PURNANINGSIH
NUZULA DWI ASTUTI
OKKY ROSITARINI
PASADEA AMALIA
PRAMUDHANA SAPUTRA
PRATIWI KUSUMA WARDANI
PREVIA RAHMI ANJANI
PUSPA INDAH DEVITASARI
PUTRI CHANDRA HARYANTO
PUTRI RETNASARI PURWANINGSIH
RAHMAWATI
RAISUZ ZAHRO
RATIFIKA NIRMALA SURI
RATIH WIDYANDARI
RESKY BAYU ANDHIKA
RESTI SYARA RONITA
RIDWAN AGUNG KUSUMA
RISA TRI OKTAVIANI
RISKI AFANDI
RIZKI AKDES CHAIRUNI
RIZKI AYU AMALIA
RIZKI YUNI LESTARI
RIZKY AZMIARTI ISTIQOMAH
RIZKY NUR APRILIASARI
RIZQI KHILDA AMALIA
RIZQI NEFI MARLUFI
RIZQI NURUS SAADAH
ROBY AKBAR TAUFIK
ROFI NOVIYANI
ROFIAH YUSUF
RURI CANDRA DEWI
RYAN ILHAM PRATAMA
SAFIF PURNAMA
SAFITRI LESTARI
SAFRINA HARFAH
SARIF PURNAMA
SEFTIKA ANGGRAINI
SEPTARIN DWI AYUNINGTYAS
SEPTI DWILESTARI
SEPTI PUJI RAHAYU
SEPTI WIDIASTUTI
SESILIA YULIA WARDANI
SETI FANI
SHEILA WAHYU KAMILA
SHINTA PRAMUDYASIWI
SISCA CAHYANI
SITI MUFIDAH
SITI NUR KHOLIFAH
SITI PATIMAH
SITI ROZIQIYAH
SOPA SANIAH
SRI REZEKI NILASARI
SUCININGTYAS PURBASARI
SURYA JATMIKA
SWAJI CARAKA YOGISWARA
SYAEFA AZIZ HAKIM
TANTI KURNIAH SARI
TANTIN NURHIDAYAH
TANTRI WIDYA ASTUTI
TAUFIK MAILANA FATONI
TIKA NURCAHYANI
TOMI RAHMAD KHAMDANI
TRIYONO
UMI ARISMAWATI
USWATUN HASANAH
VERA ROSDIANAWATI
VINA HENTRI TUNITA NINGRUM
VIRGINIA DELMAR HADININGRUM
WAHYU ELKO SEPTIYONO
WAHYU ELKO SEPTIYONO
WAHYU MARLIYANI
WAHYUNINGTYAS PUTRI LESTARI
WHISNU AJI PRADANA
WIDA PANGESTUTI PRIHATIN
WIRASTA CATUR PAMBUDI
WISNU HARICOYO
WIWID JARINDA
WIWIT NURHIDAYAH
WULANSARI
YUNIAR AJENG PRATIWI
YUSNITA AFRIDA
ZAINAL ARIFIN
ZAMURUDA SILMI

Fakultas Teknik
ABID ABDURROHMAN VAWAS
ACHMAD LINGGA MANGGALA
ACHMAD MUCHLISIN
ADIB RIZAL FAHMI
ADITYA MALVIN SAPUTRA
AFIF SETYA NUGRAHA
AHI SHOLIHIN SARAGIH
AHMAD FAUZI ASSYAUQI
AHMAD IQBALUL WAFI
AHMAD YUSUF
AHMAD ZAMZAMY UMAR
AINUN NASYIATUL AISYAH
AISYAH
AJENG TRIANA KUSUMA PUTRI
AKBAR EKO MARYANTO
ALFIAN ARDIAN SHALEH
ALFIAN TRI ATMAWAN
ALIKA PUTRI
ALKARIMAH
AMALIA SHOLIHAH
APRILIA TRI AMBARWATI
ARDIYANTO MUHARRAM PUTRA
ARIE FERDIAN EKI SAPUTRO
ARIEF ASNAD
ARIEF BUDIAISTANA PUTRA
ARIEF REESA WIJAYA
ARIKA ARTI SAPUTRA
ARIS MUNANDAR
ARJULYNDA NURMA HAFIZA
ARUM WIDYASTUTI
ARYA SEPTIADI BAYU AGUNG
ARZHANA DAMAR PANGGALIH
AS ANTSHORI
AULIA ROSIANA WIDIARDHANI
AYU FAJRIANI SHIDQI
AYU ISNINDIYAH
AZHAR HASNA RANY
AZHIM ROSYED IBRAHIM
BAMBANG TEJA SUKMANTO
BANGKIT GIRI DARMAWAN
BAYUAJI ALIM PAMBUDI
BENI KURNIAWAN
BERNADUS ELY SAPUTRO
BERNAVITA KARINA KUSUMASARI
BIMO ANGGORO
BRIANTAMA RAHCMAT FAUZI
CAHYANA RENGGA HERMAWAN
CAMAR CHARITA SHANDRA DEWI
CANDRA PRATAMA
CANTONA DWI PUTRANTO
CECEP SUWARA
CLAUDILLA ROSA FITRIANA
CREZENCO LUCKY SABATINO
DANAR ARDIANTO
DEDE PARDIA RAHMAN
DENI ZULHARMAIN
DENIA SULISTYANINGRUM
DENTISHA MARETA VENTURINA
DEVA KRISNA WIBOWO
DHEDY SETIAWAN
DICKY NURUL ILHAM
DINA KURNIAWATI
DONES SEPTIANO WALDHANI
DONI KURNIAWAN
DWI NURHASANAH
DYOTA LAKSMANA ADITYANTORO
EDWAR PUTRA ADI PRATAMA
EKA TEGAR DESTIAN
EKO SUSANTO
ELISA DINI NOVARIANTI
ELSA AZMI RAHMAYAYI
ERLANGGA NOVRIYANTO JAYA
ERVINSYAH WIDYA PUTRA
FAHMI TYASTOMO
FAJAR WAHYU STYAWAN
FARIS RAMADHAN
FATMA INDAH RAHMAWATI
FAUZI SHOLICHIN
FERA SURYANI
FERA SURYANI
FERINA SUCI ADININGTYAS
FIDUCIA
FIRMAN SYAUQI
GAGAM KEMASSIAS
GALIH HERU PRASETYO
GANJAR ISNU HARDIKA
HANGGA DWI PURNAMA
HIDAYATULLOH FI YAUMI SANI AL KHAQ
HIDAYATULLOH FI YAUMI SANI ALKHAQ
HILMI MUHAMMAD AQWAM
IBNU YUDHO NUGROHO
IMAM AKBAR
IMAM AKBAR FACTONI
IMAM ARWANI
INKA GALUH SARASWATI HANDOKO
ISKANDAR
ISNAWATI PRATIWI
IZUL MUBAROKAH
JAKA HERLAMBANG
KARTIKA NUR RAHMAWATI
KHAFID MANSYUR
KHAFIDZ MANSYUR
KRISNA INDRAYATI SINAGA
LAILA ZAHROTUL FITRI
LINDA ANI SAWATI
LINDA NURIAWATI
LOVELITA INDRIKASIH LIUNSANDA
LURIN TAUFANA DEWANTI
M. ALFIN NAQIB ANNABIIL
M. LUTHFI HAKIM
MALAM SAPTORO
MAYSHAQIQI
MEGA YULIANTIKA
MELYNDA PUTRI WIJAYA
MOHAMAD ADAM YUDISTIRA
MOHAMAD DIRGANTARA NURUL GALAXI
MUFTIHATUN NIKMAH
MUH BAHRUL ULUM AL KARIMI
MUHAMMAD ABDUL AZIZ
MUHAMMAD BASIL SATRIO
MUHAMMAD FAHMI ALWY
MUHAMMAD FEBRIANTO KURNIAWAN
MUHAMMAD RIZQI KURNIAWAN
MUHAMMAD SHODIQ
MUTIARA DIVA DIEN LAKSANA
NADIA YOSSEMAY DYAH PRAMESTI
NANCY LUTHFITA
NAND DWI ARIFIDIANTO
NANDA DWI ARIFIDIANTO
NI PUTU DIAH UNTARI NINGSIH
NICE DIAH CHISTININGRUM
NINDIA IKA PUTRI
NISWATUL AINI
NOPAT HANAFI
NOVIA SABDAWATI
NURLAILA SARIFAH
NURUL FEBRIANI
PADZIL KURNIAWAN
PANDU HIDAYAT SUWARNO
PANDU PRASETYO
PARAS DATU KAURIMA
PENI SARTIKA
PUPUT KARMILA
RADEN RORO DITA ARVIANANDA
RAHMA HARDINA SEVA
RANIA PUTRI UTAMI
RASID ABDULLAH
RATNA ISNADEWI
RATNA YUNIANTI
RATRI ARDANARISWARI
REZA DEWANTO
RISMOYO
RIZKI SURYA PERMANA
ROCHIMA NOR AFIFAH
ROCHIMA NUR AFIFAH
ROHMAT MUNASIKHIN
ROKHMI ARTHA NUGRAHENI
ROKMI ARTHA NUGRAHENI
ROSYID SEPTOAJI
SENDHY CLAUDYA FARERA YULISTINA
SETO HARYOPAKSI
SITI ALBANIAH
SOFIA PUTRI SARI DEWI
STEVEN YULANDO
SULISTRIYONO
TATING RIMBAYANTI
TRI WAHYUNI
TRIA VINDYASTUTI
TUTI MUTIA
UMMU AULIYA HANDOKO
VANI SOHAYA
WAHID RIYONO
WAWAN RADITYA KENCANA
WIBI HANUM LARASATI
WIDIA PRATIWI
WISNU PAMUNGKAS
WULANSARI
YAHYA YAINAL MUSTOFA
YANUR ASMOROJATI
YASINTA AZIZ
YUSI SAFITRI DEPIANTIWI
ZULFA KURNIAWAN SHAFYANTA

Sumber : www.ospekuny.com






comments powered by Disqus

(C) 2012 World Life Networks, LLC | Contact & Support | FAQ | Advertise

API: Archiver API

Member Sites: Animals I Love | Archiver | Birthplace | Cab Dialer | Life Social | QR Maker | VBX Connect | What's Public | Public IP | TXT by E | Noozly | Restate It | Web Navigator | Secure Password Maker | Current Time | Appaholic | If You Will It Jobs | Grocery Deals | 2 Things I Love | Things You Say To Your Best Friend

Member Content Sites: She Look Dumb | Stuff My Mom Texts

Sites You Should Visit: Biz Scrambler | Apps Over Easy Inc. | Website Thumbnails by PagePeeker.com

If you would like more information about your choices as it relates to advertising and behavioral targeting, Click here

Creative Commons License

Information provided in part by Status.net sites and Identi.ca.
Status.net and Identi.ca content and data are available under the Creative Commons Attribution 3.0 license.
Definitions and suggestions






loading...